CATATAN Erupsi Gunung Merapi dan Anak Krakatau Meletus pada Jumat 10 April 2020
Letusan Gunung Anak Krakatau berbarengan dengan letusan Gunung Merapi yang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta, hanya saja Merapi meletus pada Jumat
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Letusan minor (freatik) pada fase ini terjadi secara beruntun, berbeda dengan letusan freatik pada fase pengisian dapur magma.
Di fase pengisian dapur magma, letusannya biasanya tunggal (single event). Setelah letusan-letusan minor mereda, pada 11 Agustus 2018 muncul kubah lava baru yang menandai sebagai erupsi magmatis pertama kali pasca erupsi besar 2010.
Pertumbuhan kubah lava berjalan lambat dengan laju kurang dari 3.000 meter kubik per hari.
Pertumbuhan kubah lava berlangsung hingga 2019 yang sering disertai awan panas kecil dengan jarak luncur kurang dari 2 kilometer ke arah Kali Gendol.
Pada akhir 2019 pertumbuhan kubah lava berhenti.
Kemudian pada Februari 2020 mulai ada peningkatan kegempaan, yang ditunjukkan dengan banyaknya gempa-gempa vulkanik dalam.
“Ini indikasi pasokan magma baru. Pada 3 Maret 2020 terjadi letusan minor (freatik) yang cukup besar dengan ketinggian kolom letusan hingga 6 km di atas puncak,” ujar Subandriyo.
Pada 27 Maret 2020 kembali terjadi letusan minor dengan ketinggian kolom letusan mencapai 5 km di atas puncak.
Setelah itu terjadi letusan beruntun sebanyak 4 kali hinggal 28 Maret 2020, dengan skala yang lebih kecil.
Letusan-letusan minor yang terjadi secara beruntun seperti ini, dalam catatan Pak Ban, pernah terjadi pada Mei 2018, yang kemudian diikuti munculnya kubah lava 3 bulan kemudian yaitu pada 11 Agustus 2018.
KUBAH LAVA BARU
Oleh sebab itu, kejadian letusan-letusan minor yang terjadi pada Maret 2020 ini kemungkinan sebagai awal munculnya kubah lava baru.
Apakah ini mengindikasikan Merapi akan mengulang aktivitas 2010, letusan sangat besar bersifat eksplosif yang merenggut korban demikian banyak.
Letusan 2010 menurut data pernah terjadi pada 1872. Kemiripannya meliputi magnitude, gejala awal maupun aktivitas pasca erupsinya.
Pasca erupsi 1872 juga terjadi beberapa kali erupsi minor (Voight, 2000), sebelum terjadi erupsi magmatis tahun 1883. Kedua erupsi besar tersebut disebabkan magma yang kaya gas vulkanik.
Perilaku Merapi setelah letusan besar antara 1872 dengan 2010 hingga saat ini masih konruen. Pada fase pengisian dapur magma, terjadi letusan freatik murni antara tahun 1878-1879 identik dengan letusan freatik antara 2012-2014.
Saat itu terjadi letusan tunggal tapi tidak ada aktvitas vulkanik lebih lanjut. Pada 1883-1885 mulai terjadi pertumbuhan kubah lava.
Ini menandai erupsi magmatik pertama pasca letusan besar 1872. Fase ini identik dengan erupsi 2018-2019 yang menandai erupsi magmatis sekuen pertama pasca 2010.
Pada tahun 1885-1887 terjadi pertumbuhan kubah lava yang diawali dengan beberapa kali letusan eksplosif.
Lalu apakah serangkaian letusan eksplosif yang terjadi sejak awal Maret 2020 sebagai gejala awal munculnya kubah lava baru?
Apabila dalam beberapa minggu ke depan muncul kubah lava baru, merupakan erupsi magmatis sekuen kedua. Artinya sejarah akan berulang.
Nah, sekarang apa kaitan pandemik virus Corona dan letusan Merapi? Menurut Subandriyo wabah itu dan erupsi Gunung Merapi merupakan dua sumber bencana yang saling indipenden, tidak ada kaitannya sama sekali.
Oleh karena sumua jenis bencana akan bermuara ke masalah sosial, maka bila tidak ditangani secara tepat akan berpotensi menimbulkan bencana besar.
“Sebagaimana kita ketahui, sifat dan karakter Covid-19 sangat mudah dan cepat menular,” katanya. Lalu, bagaimana mitigasinya jika kedua masalah ini terjadi bersamaan?
Riwayat 2010, letusan Merapi menimbulkan luncuran awan panas guguran dengan jarak luncur sangat jauh mengikuti alur Kali Gendol.
Berdasarkan fakta sejarah, lebih 90 persen awan panas guguran Merapi mengikuti arah bukaan kawah yang sejak tahun 2006 ke arah Kali Gendol, sektor selatan-tenggara.
Wilayah yang terancam meliputi Desa Glagaharjo, Desa Kepuharjo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman dan Desa Balerante, Kabupaten Klaten.
EMPAT SKENARIO
Berdasarkan skenario ini, diperkirakan jumlah pengungsi lebih dari 4.000 KK atau sekitar 16 ribu jiwa.
Apabila terjadi pengungsian mendadak, akan terjadi interaksi jarak dekat antar pengungsi dan antara pengungsi dengan petugas dan relawan.
Kebijakan social distancing dan physical distancing tidak bisa berjalan, sehingga berpotensi terjadi penyebaran Covid-19 secara masif.
Bagaimana langkah-langkah preventif untuk mitigasi bencananya? Subandriyo menjelaskan empat langkahh yang harus dilakukan sesuai tahapan peringatan dini bahaya Gunung Merapi.
Pertama, menurutnya pada level status Waspada, perlu disusun revisi rencana kontijensi dengan skenario dua sumber ancaman bencana yaitu letusan Merapi dan Covid-19
Kedua, pada tingkat Siaga, perlu dilakukan identifikasi penduduk yang terpapar Covid-19 di wilayah yang diperkirakan akan terdampak letusan sesuai skenario.
Mereka yang dinyakan positif, segera diambil tindakan medis sesuai protokol kesehatan.
Cara ketiga, lokasi dan cara pengungsian perlu diatur kembali dengan mempertimbangkan kebijakan social distancing dan physical distancing tetapbisa diterapkan.
Implikasinya perlu tempat pengungsian yang lebih luas. Kebijakan sister villages mungkin tidak tepat diterapkan untuk saat ini.
Keempat, pada level status tertinggi, Awas, semua penduduk yang diperkirakan akan terdampak sudah harus diungsikan.
Pada saat membantu pengungsian, perlu pengendalian jumlah petugas dan relawan serta mereka harus teridentifikasi kesehatannya dengan baik.
“Keberhasilan penanggulangan bencana letusan gunung api tergantung tiga hal, assessment bahaya, peringatan dini yang manageable dan manajemen pengungsian,” tegas Subandriyo.(Tribunjogja.com/xna)