Update Corona di DI Yogyakarta
Sri Sultan HB X Minta Masyarakat Tak Menolak Tenaga Medis untuk Pulang ke Rumah
Sri Sultan HB X meminta masyarakat untuk tidak menolak tetangga mereka yang bekerja sebagai perawat, dokter, maupun tenaga medis
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TEIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, turut menyoroti fenomena stigma negatif di masyarakat terhadap tenaga medis yang bekerja di rumah sakit atau layanan kesehatan.
Sri Sultan pun meminta masyarakat untuk tidak menolak tetangga mereka yang bekerja sebagai perawat, dokter, maupun tenaga medis saat kembali ke rumah mereka.
Hal itu disampaikan Sri Sultan HB X seusai melakukan pertemuan dengan pihak RSUP Dr Sardjito, dimana salah satunya membahas permasalahan tersebut.
"Tidak mau menerima kehadiran perawat ataupun dokter, sehingga mereka menyampaikan pada saya harus mencari tempat lain untuk tempat tinggal dokter atau nurse atau tenaga medis yang lain, yang nggak bisa pulang karena dianggap membawa virus. Ini persoalan yang terjadi," bebernya, di Kepatihan, Senin (6/4/2020).
• KSPSI DIY : Ribuan Buruh Terdampak Virus Corona
• Lawan Corona, Seto Nurdiyantoro Lelang Kaus Polo Bersejarah
Raja Keraton Yogyakarta inipun kembali menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menaruh prasangka seperti itu kepada para tenaga medis.
Mereka yang rata-rata telah memiliki keluarga, ketika kembali ke rumah tentu sudah melalui prosedur sterilisasi yang aman.
"Sebelum sampai rumah, mesti sudah mandi. Membersihkan diri dari segala hal yang bersifat kemungkinan tertular. Kalau mereka kembali ke rumah, mereka sudah bersih tidak membawa virus. Bagi saya sebetulnya kurang bisa memahami pendapat warga merasa takut tetangganya ini seorang dokter atau tenaga medis atau nurse untuk tidak boleh pulang. Mereka pulang itu sudah bersih," bebernya.

Tempat Karantina
Terkait tempat karantina, Sri Sultan menjelaskan bahwa berdasarkan Keputusan Mendagri yang terbaru, dimungkinkan untuk lurah menyediakan tempat karantina di wilayahnya.
"Ya saya minta kabupaten kota bisa bicara ke lurah tentang isolasi ini. Kami juga menyediakan suplemen untuk diminum bagi mereka yang diisolasi dengan harapan supaya kondisi fisiknya sehat sehingga dia tidak kena dalam arti negatif selama 14 hari. Karena kita tidak bisa mengatakan tidak boleh pulang (mudik). Bisa kita isolasi dan kesediaan pendatang berdiam diri selama 14 hari, itu kita kasih suplemen semua. Kalau di asrama haji pemerintah memberikan makanan, dan minum suplemen," ungkap Raja Keraton Yogyakarta tersebut.
Pemda DIY pun telah menyiapkan ruang untuk tenaga medis yang tidak bisa kembali ke rumah mereka karena adanya penolakan warga.
Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie.
"(Tempat Karantina) Nakes (tenaga kesehatan) sebenernya mereka yang kemudian, maaf, ditolak oleh masyarakat. Kami berikan mereka perlindungan. Kalau isolasi para pasien, yang jelas ODP yang positif dan ODP yang tidak mampu dilakukan isolasi mandiri di rumah," ungkapnya.
• Lagi, Pasien Covid-19 di Bantul Meninggal Dunia
• Diminta Isolasi Mandiri, Anggota Keluarga Pasien Covid-19 di Bantul ini Malah Keluar Rumah
Ia menambahkan, masing-masing kabupaten dan kota telah memiliki tempat karantina, misalkan di Gunungkidul dan Bantul ada tempat khusus untuk ODP.
"Kalau Nakes di Pusdiklat. Belum diisi, tapi sudah siap. Kita mau data dulu. Sementara kalau masyarakat (yang ODP) diserahkan kabupaten dan kota, bisa diopeni nggak. Kalau nggak, ditangani DIY," ujarnya.
Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, menjelaskan masing-masing kelurahan yang memiliki tempat bisa menyediakan tempat untuk karantina seandainya dibutuhkan.
"Tapi kabupaten kota juga menyediakan. Sebetulnya ini untuk tidak kekurangan tempat," bebernya.
Asrama haji, lanjutnya, ketika satu orang menempati satu ruangan maka cukup menampung 150 orang.
"Asrama haji peruntukannya bagi ODP yang terseleksi dan membutuhkan tempat karantina serta tidak bisa karantina mandiri. Di Bantul misalnya menyiapkan bekas Puskesmas di Bambanglipuro, Pondok Pemuda, dan BLK Jalan Paris," pungkasnya.

Update Kasus Corona di DIY
Data konfirmasi kasus Covid-19 di DIY per 6 April 2020 mencatat PDP keseluruhan di DIY sebanyak 368 orang di mana 125 orang masih dalam perawatan.
Kemudian, berdasarkan hasil lab tercatat bahwa jumlah kasus positif sebanyak 37 orang (sembuh 6 orang, meninggal 5 orang), negatif 114 orang, dan dalam proses lab 217 orang (8 orang meninggal).
Selanjutnya untuk jumlah ODP di seluruh DIY yakni 2.880 orang.
Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih, menjelaskan berdasarkan laporan hasil uji lab dari BBTKLPP Yogyakarta pada 6 April 2020 ada penambahan kasus terkonfirmasi positif 2 kasus, sehingga total kasus positif menjadi sebanyak 37 kasus.
"Tambahan kasus positif tersebut yakni kasus 37 yang merupakan laki-laki usia 60 tahun, warga Pemalang Jateng. Pasien ini langsung periksa dan opname ke salah satu RS di DIY, ada riwayat kontak dengan anaknya dari Solo," bebernya, Senin (6/4/2020).

Selanjutnya, kasus 38 yakni laki-laki usia 42 tahun, warga Kota Yogyakarta.
Selanjutnya, Berty menambahkan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul melaporkan kematian kasus positif pada 6 April 2020.
Pasien tersebut adalah kasus 19.
"Kasus 19 adalah laki-laki usia 53 tahun warga Bantul. Diagnosa DM (Diabetes melitus) type 2 dan Covid-19," bebernya.
(TRIBUNJOGJA.COM)