Kulon Progo

Capai Separuh Target Sensus Penduduk Online, BPS Kulon Progo Sampaikan Perpanjangan Waktu Sensus

Presentase tersebut menurut Kepala BPS Kulonprogo, Sugeng Utomo, masih cukup jauh dari target yang ditetapkan BPS Kulon Progo, yakni sebesar 19 persen

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kulonprogo 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Andreas Desca Budi Gunawan

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Hingga Sabtu (4/4/2020), presentase warga Kulon Progo yang sudah mengisi Sensus Penduduk Online (SP Online) mencapai sekitar 9 persen.

Presentase tersebut menurut Kepala BPS Kulonprogo, Sugeng Utomo, masih cukup jauh dari target yang ditetapkan BPS Kulon Progo, yakni sebesar 19 persen dari total jumlah penduduk di Kulon Progo.

"Jika diangkakan, 9 persen itu sekitar 14.113 keluarga atau 45.000 lebih orang," katanya.

BPS Gunungkidul Perpanjang Proses Sensus Penduduk Online 2020

Sugeng mengatakan belum tercapainya target SP Online tersebut diakibatkan oleh banyak faktor di lapangan.

Disebutkan olehnya, tidak semua warga Kulon Progo memiliki atau bisa menggunakan gadget untuk mengakses SP Online yang rencananya berakhir pada 31 Maret 2020.

Selain itu, Sugeng juga menyampaikan bahwasanya SP Online di Kulon Progo juga akan diperpanjang ditengah merebaknya Covid-19.

"Saat ini, dari pusat sudah mengeluarkan instruksi bahwa SP Online diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Sedangkan pelaksanaan wawancara yang semula 1-31 Juli diundur menjadi 1-30 September 2020," ujarnya.

Partisipasi Sensus Penduduk Online Meningkat hingga 1000 per Hari

Dia pun mengungkapkan bahwa hal tersebut dapat memberikan ruang bagi warga kulon Progo yang masih belum sempat mengikuti SP Online.

"Dari data yang kita peroleh, mayoritas warga Kulon Progo mengikuti SP Online di akhir-akhir periode kemarin. Dengan diperpanjangnya SP Online harapannya target 19 persen bisa tercapai," ungkapnya.

Di sisi lain, Pandemi COVID-19 ternyata juga menjadi kendala tersendiri bagi pelaksanaan SP Online.

Sebelum merebaknya Covid-19 BPS Kulon Progo telah menggencarkan kegiatan bertajuk mengisi SP Online bareng yang dilaksanakan di sekolah, kalurahan, kapanewon dan instansi pemerintahan.

Namun, Lanjutnya, setelah mewabahnya virus tersebut dan disusul dengan berbagai protokol pencegahan Corona yang salah satunya menghentikan kegiatan yang mengumpulkan banyak massa, maka program ngisi bareng tersebut pun ikut ditiadakan.

"Program ngisi bareng SPO ini sebenarnya cukup mendongkrak jumlah warga yang terdata. Mereka mengisi sendiri tapi tetap dalam pendampingan kami, nah setelah adanya Corona, kegiatan itu terpaksa dihentikan," ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Andreas Desca
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved