Update Corona di DI Yogyakarta

BPBD Kota Yogyakarta Sebut Penyemprotan Disinfektan di Fasilitas Publik Masih Minim

Bila diakumulasikan secara total, diperkirakan sekitar 70 persen fasilitas publik telah disemprot disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
Mobil water canon melakukan penyemprotan cairan disifentak di jalan Margo Utomo, Kota Yogyakarta, Selasa (31/3/2020) Penyemprotan yang dilakukan bersama instansi terkait tersbeut sebagai bentuk antisipasi dari penyebaran virus covid-19 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta menilai penyemprotan cairan disinfektan pada sejumlah fasilitas publik di wilayah setempat masih minim guna mencegah penyebaran virus corona.

"Yang sudah dilakukan penyemprotan kurang lebih masih di angka 30-40 persen. Di sekolah-sekolah masih banyak yang belum, kemudian masjid, gereja dan tempat ibadah memang sudah dilakukan secara mandiri tapi kami belum punya datanya," jelas Analis Bencana BPBD Kota Yogyakarta, Retno Rahayu, Selasa (31/3/2020).

Dia menjelaskan, pihaknya masih cukup terbantu dengan inisiatif warga yang melakukan penyemprotan secara swadaya di lingkungan masing-masing.

Perhatikan, Ini Aturan Penggunaan Disinfektan yang Disarankan WHO

Bila diakumulasikan secara total, diperkirakan sekitar 70 persen fasilitas publik telah disemprot disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona.

"Kalau BPBD memang belum sampai banyak melakukan penyemprotan. Karena bahan-bahan juga sudah cukup sulit didapat, kalaupun ada harganya sudah tinggi," imbuh Retno.

Saat ini, pihaknya masih memiliki persediaan bahan-bahan untuk penyemprotan diantaranya kaporit, vixal, serta porstex.

Bahan-bahan yang mengandung klorin diakui cukup sulit didapat di pasaran dan dijual dengan harga yang cukup tinggi.

Gejala Virus Corona Selain Batuk dan Sesak Napas, Berdasarkan Pengalaman Pasien Positif COVID-19

"Saat ini masyarakat juga banyak yang membeli, karena itu anjuran dari Kemenkes untuk penyemprotan makanya harganya tinggi," imbuhnya.

Dia menambahkan, idealnya penyemprotan disinfektan dilakukan selama 12 jam sekali.

Namun, karena kekurangan bahan dan sumber daya manusia, pihaknya hanya mampu melakukan penyemprotan selama satu hari sekali dan pada wilayah-wilayah tertentu saja.

"Penyemprotan yang paling baik itu dilakukan pada pukul 10-12 wib, karena sinar ultraviolet dari matahari persentasenya tinggi pada saat itu. Kami juga setiap hari baru mampu melakukan penyemprotan selama empat jam, tapi kami berusaha menjangkau lebih banyak area," kata Retno. (TRIBUNJOGJA.COM)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved