Update Corona di DI Yogyakarta
Sebanyak 700.000 Pelajar DIY 'Perangi' Covid-19 dengan Belajar di Rumah
Berdasarkan kebijakan yang diambil Pemda DIY, mereka para pelajar ini masih akan belajar di rumah terhitung sejak 23-31 Maret 2020.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seminggu sudah pelajar di DIY tidak berangkat ke sekolah masing-masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan kebijakan yang diambil Pemda DIY, mereka para pelajar ini masih akan belajar di rumah terhitung sejak 23-31 Maret 2020.
Kepala Balai Teknik Komunikasi Pendidikan DIY Edy Wahyudi menjelaskan bahwa langkah ini terbukti efektif untuk meredam penyebaran Covid-19 yang lebih masif di DIY.
Ia mengatakan bahwa jumlah pelajar di DIY dari jenjang SD hingga SMA/SMK sederajat sekitar 700.000 pelajar, yang sangat riskan bila mereka tetap harus pergi ke sekolah.
• Satpol PP Kota Temukan Pelajar Tidak Ikuti Belajar di Rumah
"Alhamdulillah dari evaluasi dengan belajar di rumah, maka pencegahan penularan dan penanganan Covid-19 di kalangan para siswa dinyatakan teratasi karena anak-anak benar-benar posisi di rumah. Kalau kita lihat di jalan, tempat anak-anak biasa ngumpul, bisa dibilang sama sekali nggak ada. Kami merasa bersyukur ada 700.000 pelajar yang sama saja dengan seperlima atau 20 eprsen dari total penduduk di DIY yang belajar di rumah," bebernya, Minggu (29/3/2020).
Ia menjelaskan bahwa kunci yang terpenting dalam pelaksanaan belajar di rumah adalah komunikasi yang terjalin antara guru, orang tua, dan murid.
Guru memastikan ke orang tua tentang keberadaan murid bila anak memberikan respons yang lama saat pelaksanaan belajar di rumah.
"Komunikasi dengan orang tua memastikan keberadaan anakanya di mana, misal anaknya di rumah tapi paketannya habis. Kita juga bisa memaklumi itu," ungkapnya.
Edy menambahkan bahwa pada masa tanggap darurat tersebut, guru dipersilahkan memakai media apapun untuk bisa memberikan materi pelajaran bagi pelajar yang belajar di rumah.
"Dari awal sudah disampaikan gunakan yang paling dikuasai bapak ibu guru sampai kami menyampaikan kepepete pakai WA group nggak masalah yang penting materi tersampaikan ke anak dan anak bisa mengakses dan anak posisi di rumah. Kalau ditanya pakai apa, apapun dipakai," bebernya.
• Mahasiswa UNY Kembangkan Smart Braille Box, Media Pembelajaran Bahasa Asing bagi Tunanetra
Edy menegaskan bahwa pihaknya mengacu pada edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar jangan sampai ada pencapaian target kurikulum karena saat ini kondisinya adalah masa tanggap darurat.
"Poin terpenting anak-anak di rumah, tidak berkeliaran karena bapak ibu guru secara aktif berkomunikasi dengan mereka. Kekhawatiran semua orang termasuk Bapak Gubernur, belajar di rumah tapi nyatanya anak keluar, yang ditakutkan semua orang bukan meminimalisir permasalah justru memicu permasalahan. Anak Yogya nampaknya di rumah saja, keluar juga nggak ada apa-apa. Kesadaran anak-anak sudah bagus," tuturnya.
Terpisah, salah satu guru yang mengajar Bahasa Jawa di SMPN 3 Mlati Sleman Suwasti Ratri menjelaskan bahwa di Minggu pertama penerapan belajar di rumah, ia menggunakan WA Group sebagai media pembelajaran.
"Saya saat ini mencoba via WA Group dulu. Kendalanya, HP lebih boros baterai dan harus rajin menghapus pesan yang sudah tidak perlu. Kelebihannya, bisa langsung koreksi sekian siswa, sekian kelas. Kebetulan saya ngajar semua kelas," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)