Breaking News:

Sri Sultan HB X Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat Terkait Kelanjutan Pembangunan Tanjung Adikarto

Orang nomor satu di DIY tersebut mengatakan bahwa saat ini sudah ada teknologi yang bisa diaplikasikan untuk Tanjung Adikarto.

tribunjogja/hamim thohari
Foto udara pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulonprogo. Pelabuhan yang mulai dibangun 2004 ini belum bisa difungsikan sesuai tujuan pembangunan karena gelombang besar dan sedimentasi. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kelanjutan pembangunan Tanjung Adikarto Kulonprogo menunggu kepastian pembiayaan.

Selain itu juga ada beberapa penyesuaian perencanaan yang diperlukan sebelum melanjutkan pembangunan fisiknya.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada pekan lalu mengatakan bahwa DED Tanjung Adikarto sedang berada di Kementerian Keuangan.

Adapun terkait teknis, Sultan sudah melakukan pertemuan dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan untuk mencoba mendesain ulang DED Tanjung Adikarto.

"Saya ingin desainnya (breakwater) tidak lurus tapi belok. Kalau lurus, saya setiap tahun harus ngeruk pasir. Dari pada seperti itu, ya belok," ujarnya di Kepatihan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X Imbau Selama Musim Hujan, Sekolah Tak Gelar Kegiatan di Sekitar Sungai

Ratu Maxima Langsung Lepas Sarung Tangan Saat Bersalaman dengan Sri Sultan

Sultan mengatakan, ketika terjadi sedimentasi, otomatis biaya untuk operasional Tanjung Adikarto akan menjadi lebih mahal karena harus dikeruk berkala. Sultan menegaskan biaya pengerukan tersebut berkisar antara Rp 2-3 miliar setiap tahunnya.

"Tapi saya nggak mau keluarkan duit Rp2-3 miliar setiap tahun untuk ngeruk, kan jatuhnya lebih mahal," ungkapnya.

Orang nomor satu di DIY tersebut mengatakan bahwa saat ini sudah ada teknologi yang bisa diaplikasikan untuk Tanjung Adikarto.

"Teknologi sekarang nggak usah mahal-mahal juga bisa seperti karet dimasukin pasir laut terus ditumpuk supaya mencegah pasir laut masuk ke delam area untuk parkir kapal dan sebagainya, ada. Teknologi sekarang lebih memungkinkan," bebernya.

Nelayan sedang menebar jala untuk menangkap ikan di kolam pelabuhan Tanjung Adikarto, Kulon Progo, belum lama ini. Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto yang dibangun sejak tahun 2004 belum bisa dimanfaatkan sesuai tujuan awal, karena masalah gelombang besar dan sedimentasi.
Nelayan sedang menebar jala untuk menangkap ikan di kolam pelabuhan Tanjung Adikarto, Kulon Progo, belum lama ini. Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto yang dibangun sejak tahun 2004 belum bisa dimanfaatkan sesuai tujuan awal, karena masalah gelombang besar dan sedimentasi. (Tribun Jogja/Dwi Nourma Handito)
Halaman
12
Penulis: Kurniatul Hidayah
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved