Breaking News:

Hasil Kajian Pustral UGM, Pelabuhan Tanjung Adikarto Kulonprogo Alami Sedimentasi Parah

Prof. Nur Yuwono menyampaikan, berdasarkan data, banyak kasus erosi dan sedimentasi beberapa pelabuhan di Indonesia.

Dok.Istimewa
Diskusi Perencanaan dan Manajemen Pelabuhan yang berlangsung di ruang seminar Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Senin (7/10/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pengembangan pelabuhan di daerah pantai yang memiliki laju transpor sedimen pantai yang jauh, memerlukan kajian dari pemerintah pusat dan daerah karena tidak ada data gelombang yang memadai di Indonesia, terutama untuk data jangka panjang.

Kondisi ini menyebabkan ketidakakuratan dalam memprediksi naik dan turunnya gelombang, yang mungkin mengakibatkan tidak akuratnya perubahan garis pantai atau penilaian tingkat erosi dan sedimentasi.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Perencanaan dan Manajemen Pelabuhan yang berlangsung di ruang seminar Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Senin (7/10/2019).

Diskusi ini menghadirkan pakar tranportasi dari Jerman Franz Horberg, yang memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun sebagai Master Mariner / Transport Economist, pengajar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM, Prof. Nur Yuwono, Prof. Bambang Triatmodjo dan Prof. Radianta Triatmaja.

Prof. Nur Yuwono menyampaikan, berdasarkan data, banyak kasus erosi dan sedimentasi beberapa pelabuhan di Indonesia.

Ia mencontohkan pelabuhan Pulau Baai Bengkulu yang dibangun tahun 1982, saat ini kolam pelabuhan  mengalami sedimentasi parah sebesar 600.000 m3 per tahun.

“Saat ini tidak dapat dipergunakan lagi. Lalu pelabuhan ikan Tanjung Adikarto di Kulon Progo juga mengalami sedimentasi parah, dengan yang sedimentasi sebesar 731.000 m3 per tahun dari arah barat dan 1.024.300 m3 per tahun dari arah timur," kata Nur Yowono dalam keterangan tertulisnya.

Untuk mengatasi sedimentasi dan erosi dari struktur pantai selama ini mengandalkan pemecah gelombang namun konsep tersebut belum sepenuhnya diterima pemda  karena biaya pengoperasian dan pemeliharaan yang relatif mahal.

Prof. Radianta Triatmaja mengatakan desain pemecah gelombang sangat mahal. 

Bahkan desainnya memengaruhi dalam hal kapasitas layanan, efisiensi, serta biaya operasi dan pemeliharaan pelabuhan.

Oleh karena itu, keberadaan pemecah gelombang dalam perencanaan pelabuhan harus dipertimbangkan secara serius untuk mengoptimalkan biaya pengelolaan pelabuhan.

“Untuk berfungsi optimal, diperlukan desain, konstruksi, dan pemeliharaan pemecah gelombang yang tepat,” katanya. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved