Turki Akui Dua Tentaranya Tewas di Idlib, 10 Kendaraan Tempurnya Hancur Terkena Bom

Menurut pengumuman Kemenhan Turki, dua tentara itu tewas akibat serangan udara. Lima prajurit lainnya terluka

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
AFP/OZAN KOSE
Gambar yang diambil pada 13 Oktober 2019 dari kota Turki Ceylanpinar menunjukkan asap mengepul dari kota perbatasan Suriah Ras al-Ain di tengah pertempuran antara Turki melawan Kurdi. Kurdi mengumumkan mereka menjalin kerja sama dengan pemerintah Suriah demi menghadapi Turki yang menyerang sejak 9 Oktober 2019. 

Dikutip Presstv.com, Erdogan menegaskan, Idlib merupakan zona de-eskalasi dan zona aman dan akan memperjuangkannya dengan segala cara dan berapapun biayanya.

Ia menyebutkan, serangkaian pembicaraan menyangkut masa depan Idlib dengan Moskow gagal mencapai hasil yang diinginkan.

“Pembicaraan terus dilakukan, tapi benar apa yang kita inginkan jauh dari apa yang kita sodorkan di meja,” kata Erdogan.

“Turki telah menjalankan semua yang bisa dilakukan sesuai rencana kita. Tapi saya katakan, serangan ke Idlib sekarang hanya soal waktu,” lanjutnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (YASIN BULBUL / AFP)

Juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov merespon langkah-langkah politik Turki, termasuk ancaman menyerang Suriah sebagai skenario terburuk.

“Jika kita membicarakan rencana serangan ke otoritas yang sah, Angkatan Bersenjata Republik Arab Suriah, ini akan jadi scenario terburuk,” kata Peskov.

Moskow menunjuk Turki seharusnya melaksanakan kesepakatan Sochi, mereduksi aksi kelompok bersenjata di Idlib, dan mengawasi zona peredaan ketegangan.

Tapi yang terjadi sebaliknya. Turki menurut Peskov justru membiarkan kelompok-kelompok teroris bersenjata di Idlib terus menyerang posisi pasukan pemerintah Damaskus dan permukiman sipil.

Battle of Idlib, Pertempuran Pamungkas Rakyat Suriah

Turki Kirim Pasukan Komando ke Suriah, Krisis Idlib Makin Menegangkan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membela apa yang dilakukan pemerintah dan militer Suriah. Mereka berhak membersihkan negaranya dari kelompok teroris bersenjata.

“Saya bersimpati apa yang dilakukan Suriah. Mereka tidak bermaksud mendorong para militan itu ke negara lain, tapi mengembalikan mereka ke pemiliknya,” sindir Lavrov.

Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu. Ia menegaskan, Rusia tetap akan membantu Suriah, mengembalikan hak dan kedaulatan penuh atas negerinya.

Pada 17 Februari 2020, Presiden AS Donald Trump menelepon Tayyip Erdogan. Ia menyampaikan dukungan atas rencana operasi militer Turki di Idlib.

“Dia (Erdogan) bisa bertarung di Idlib. Dia tidak ingin rakyat terbunuh, dia punya hak sekarang, dan saya menyetujuinya,” kata Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017 (IST/XINHUA)

Aljazeera.com dan Haaretz.com, mengutip pernyataan pejabat UNHCR, mengabarkan, eksodus besar terus terjadi dari Idlib ke perbatasan Suriah-Turki.

Mark Lowcock, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, menyebut, tingkat kekerasan dan eksodus mencapai batas maksimum sejak Desember 2019.

“Ini horror kemanusiaan terbesar abad 21, setelah Perang Dunia II. Warga sipil kini keluar dari Idlib yang dihuni sekitar 4 juta jiwa, guna menjauh dari peperangan.(Tribunjogja.com/Southfront.org/AMN/Presstv.com/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved