Turki Akui Dua Tentaranya Tewas di Idlib, 10 Kendaraan Tempurnya Hancur Terkena Bom

Menurut pengumuman Kemenhan Turki, dua tentara itu tewas akibat serangan udara. Lima prajurit lainnya terluka

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
AFP/OZAN KOSE
Gambar yang diambil pada 13 Oktober 2019 dari kota Turki Ceylanpinar menunjukkan asap mengepul dari kota perbatasan Suriah Ras al-Ain di tengah pertempuran antara Turki melawan Kurdi. Kurdi mengumumkan mereka menjalin kerja sama dengan pemerintah Suriah demi menghadapi Turki yang menyerang sejak 9 Oktober 2019. 

TRIBUNJOGJA.COM, BEIRUT - Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan dua tentaranya tewas di Idlib, Suriah.

Pengumuman disampaikan Kamis (20/2/2020) malam waktu Ankara. Demikian diwartakan Al Masdar News (AMN) dari Beirut, Lebanon.

Menurut pengumuman Kemenhan Turki, dua tentara itu tewas akibat serangan udara. Lima prajurit lainnya terluka. Tidak disebutkan secara rinci lokasi mereka saat diserang.

Namun laporan-laporan yang muncul sebelumnya, pasukan Suriah mematahkan serangan besar kelompok bersenjata ke Al- Nayrab, dekat kota penting Al-Saraqib.

Detail informasi dari lapangan sedang dilengkapi kantor berita Suriah, SANA. Demikian dikutip Sputniknews.com, Kamis (20/2/2020).

Pasukan Suriah Patahkan Serangan Besar Kelompok Bersenjata di Idlib

Dikawal Polisi Militer Rusia, Turki Tarik Tentara dari Pos Terdepan Idlib

Jaringan berita Al Masdar News yang berpusat di Beirut, Lebanon, menyebut serangan besar kelompok Hayat Tahrir al-Sham dan Tentara Nasional Suriah (SNA) itu didukung militer Turki.

Kedua kelompok militan itu memperoleh dukungan penuh dari Ankara. Kontak tembak skala berat pecah di sisi kota Nayrab.

Sumber militer Suriah kepada Russia Today berbahasa Arab mengatakan, beberapa kendaraan tempur Turki dihancurkan.

Sumber di lapangan dikutip Al Masdar News menambahkan, jet pengebom Su-24 Rusia turut dikerahkan saat pertempuran berlangsung.

Sementara Turki menggunakan peluncur roket ganda, saat menggempur lapis pertahanan pasukan Suriah di sisi barat Al-Nayrab.

Polisi Militer Rusia mengawal konvoi kecil kendaraan militer Turki yang diduga membawa pasukan dari pos terdepan mereka di wilayah Idlib.
Polisi Militer Rusia mengawal konvoi kecil kendaraan militer Turki yang diduga membawa pasukan dari pos terdepan mereka di wilayah Idlib. (https://southfront.org)

Bmun kabar dari berbagai sumber ini belum mendapatkan konfirmasi dari pihak independen. Turki juga belum merespon situasi terakhir di Nayrab ini.

Perkembangan lain, militer Rusia yang mengontrol sebagian dara Suriah, menutup lalulintas udara di Suriah bagian utara.

Zona larangan terbang itu bertujuan mencegah Turki mengerahkan armada udaranya ke Suriah.

Presiden Turki Tayyip Erdogan untuk ke sekian kali mengancam akan melancarkan serangan segera ke pasukan Suriah, jika tak segera mundur dari Idlib atau sekitar pos-pos militer Turki.

“Seperti operasi sebelumnya, kami katakan operasi kita bisa terjadi sewaktu-waktu,” kata Erdogan di depan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Ankara, Rabu (18/2/2020) waktu setempat.

Dikutip Presstv.com, Erdogan menegaskan, Idlib merupakan zona de-eskalasi dan zona aman dan akan memperjuangkannya dengan segala cara dan berapapun biayanya.

Ia menyebutkan, serangkaian pembicaraan menyangkut masa depan Idlib dengan Moskow gagal mencapai hasil yang diinginkan.

“Pembicaraan terus dilakukan, tapi benar apa yang kita inginkan jauh dari apa yang kita sodorkan di meja,” kata Erdogan.

“Turki telah menjalankan semua yang bisa dilakukan sesuai rencana kita. Tapi saya katakan, serangan ke Idlib sekarang hanya soal waktu,” lanjutnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (YASIN BULBUL / AFP)

Juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov merespon langkah-langkah politik Turki, termasuk ancaman menyerang Suriah sebagai skenario terburuk.

“Jika kita membicarakan rencana serangan ke otoritas yang sah, Angkatan Bersenjata Republik Arab Suriah, ini akan jadi scenario terburuk,” kata Peskov.

Moskow menunjuk Turki seharusnya melaksanakan kesepakatan Sochi, mereduksi aksi kelompok bersenjata di Idlib, dan mengawasi zona peredaan ketegangan.

Tapi yang terjadi sebaliknya. Turki menurut Peskov justru membiarkan kelompok-kelompok teroris bersenjata di Idlib terus menyerang posisi pasukan pemerintah Damaskus dan permukiman sipil.

Battle of Idlib, Pertempuran Pamungkas Rakyat Suriah

Turki Kirim Pasukan Komando ke Suriah, Krisis Idlib Makin Menegangkan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membela apa yang dilakukan pemerintah dan militer Suriah. Mereka berhak membersihkan negaranya dari kelompok teroris bersenjata.

“Saya bersimpati apa yang dilakukan Suriah. Mereka tidak bermaksud mendorong para militan itu ke negara lain, tapi mengembalikan mereka ke pemiliknya,” sindir Lavrov.

Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu. Ia menegaskan, Rusia tetap akan membantu Suriah, mengembalikan hak dan kedaulatan penuh atas negerinya.

Pada 17 Februari 2020, Presiden AS Donald Trump menelepon Tayyip Erdogan. Ia menyampaikan dukungan atas rencana operasi militer Turki di Idlib.

“Dia (Erdogan) bisa bertarung di Idlib. Dia tidak ingin rakyat terbunuh, dia punya hak sekarang, dan saya menyetujuinya,” kata Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017 (IST/XINHUA)

Aljazeera.com dan Haaretz.com, mengutip pernyataan pejabat UNHCR, mengabarkan, eksodus besar terus terjadi dari Idlib ke perbatasan Suriah-Turki.

Mark Lowcock, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, menyebut, tingkat kekerasan dan eksodus mencapai batas maksimum sejak Desember 2019.

“Ini horror kemanusiaan terbesar abad 21, setelah Perang Dunia II. Warga sipil kini keluar dari Idlib yang dihuni sekitar 4 juta jiwa, guna menjauh dari peperangan.(Tribunjogja.com/Southfront.org/AMN/Presstv.com/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved