Erdogan Kembali Ancam Serang Suriah, Rusia Tetap Bela Damaskus

Erdogan mengancam akan melancarkan serangan segera ke pasukan Suriah, jika mereka tak segera mundur dari Idlib atau sekitar pos-pos militer Turki

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
YASIN BULBUL / AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. 

TRIBUNJOGJA.COM, ANKARA – Presiden Turki, Tayyip Erdogan, mengancam akan melancarkan serangan segera ke pasukan Suriah, jika mereka tak segera mundur dari Idlib atau sekitar pos-pos militer Turki.

“Seperti operasi sebelumnya, kami katakan operasi kita bisa terjadi sewaktu-waktu,” kata Erdogan di depan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Ankara, Rabu (18/2/2020) waktu setempat.

Dikutip Presstv.com, Erdogan menegaskan, Idlib merupakan zona de-eskalasi dan zona aman dan akan memperjuangkannya dengan segala cara dan berapapun biayanya.

Dikawal Polisi Militer Rusia, Turki Tarik Tentara dari Pos Terdepan Idlib

Battle of Idlib, Pertempuran Pamungkas Rakyat Suriah

Ia menyebutkan, serangkaian pembicaraan menyangkut masa depan Idlib dengan Moskow gagal mencapai hasil yang diinginkan.

“Pembicaraan terus dilakukan, tapi benar apa yang kita inginkan jauh dari apa yang kita sodorkan di meja,” kata Erdogan.

Battle of Idlib
Battle of Idlib (SputnikNews)

“Turki telah menjalankan semua yang bisa dilakukan sesuai rencana kita. Tapi saya katakan, serangan ke Idlib sekarang hanya soal waktu,” lanjutnya.

Juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov merespon langkah-langkah politik Turki, termasuk ancaman menyerang Suriah sebagai skenario terburuk.

“Jika kita membicarakan rencana serangan ke otoritas yang sah, Angkatan Bersenjata Republik Arab Suriah, ini akan jadi scenario terburuk,” kata Peskov.

Moskow menunjuk Turki seharusnya melaksanakan kesepakatan Sochi, mereduksi aksi kelompok bersenjata di Idlib, dan mengawasi zona peredaan ketegangan.

NATO Tak Punya Rencana Dukung Langsung Aksi Militer Turki di Idlib Suriah

Turki Kirim Pasukan Komando ke Suriah, Krisis Idlib Makin Menegangkan

Tapi yang terjadi sebaliknya. Turki menurut Peskov justru membiarkan kelompk-kelompok teroris bersenjata di Idlib terus menyerang posisi pasukan pemerintah Damaskus dan permukiman sipil.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membela apa yang dilakukan pemerintah dan militer Suriah. Mereka berhak membersihkan negaranya dari kelompok teroris bersenjata.

“Saya bersimpati apa yang dilakukan Suriah. Mereka tidak bermaksud mendorong para militan itu ke negara lain, tapi mengembalikan mereka ke pemiliknya,” sindir Lavrov.

Polisi Militer Rusia mengawal konvoi kecil kendaraan militer Turki yang diduga membawa pasukan dari pos terdepan mereka di wilayah Idlib.
Polisi Militer Rusia mengawal konvoi kecil kendaraan militer Turki yang diduga membawa pasukan dari pos terdepan mereka di wilayah Idlib. (https://southfront.org)

Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu. Ia menegaskan, Rusia tetap akan membantu Suriah, mengembalikan hak dan kedaulatan penuh atas negerinya.

Pada 17 Februari 2020, Presiden AS Donald Trump menelepon Tayyip Erdogan. Ia menyampaikan dukungan atas rencana operasi  militer Turki di Idlib.

“Dia (Erdogan) bisa bertarung di Idlib. Dia tidak ingin rakyat terbunuh, dia punya hak sekarang, dan saya menyetujuinya,” kata Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), ketika bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Mei 2017 (IST/XINHUA)
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved