Bantul

Bupati Suharsono Bantu Pengobatan Heri Supriyanto, Warga Bantul yang Hidup Tanpa Sinar Matahari

Suharsono banyak mendengarkan cerita yang disampaikan Istri Heri, Isah Yulianti. Ia mengaku sangat prihatin atas musibah yang dialami warganya itu.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Bupati Bantul, Suharsono memberikan santunan kepada Heri Supriyanto warga miskin di Bantul yang hidup tanpa sinar matahari akibat Kecelakaan, Selasa (4/2/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Bupati Bantul Suharsono bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bantul berkunjung ke rumah Heri Supriyanto, 40 tahun, warga Sirat, Sidomulyo, Bambanglipuro yang hidup tanpa sinar matahari akibat kecelakaan, Selasa (4/2/2020).

Orang nomor satu di Bumi Projotamansari itu datang untuk memberikan santunan.

Suharsono banyak mendengarkan cerita yang disampaikan Istri Heri, Isah Yulianti. Ia mengaku sangat prihatin atas musibah yang dialami warganya itu.

"Saya sebagai kepala daerah ikut prihatin dan ikut merasakan. Saya selalu membayangkan, andaikata itu saya," ucap Suharsono.

Pengobatan Warga Bantul yang Terpaksa Hidup Tanpa Sinar Matahari Ini Tak Bisa Dicover Jamkesda

Dalam pertemuan tersebut, Istri Heri Supriyanto, Yulianti banyak bercerita mengenai perjuangan merawat suaminya hingga ongkos pengobatan yang baginya sangat mahal.

Apalagi suaminya itu, kata Yuli, saat ini disarankan oleh dokter agar dirujuk di RS Karyadi Semarang atau Panti Rapih Yogyakarta untuk menjalani operasi pemasangan 'ring' atau 'balon' dibagian pembuluh otak supaya penglihatannya kembali normal.

Namun alat tersebut, kata dia, harganya sangat mahal dan harus didatangkan dari Singapura.

Harganya mencapai Rp 24 juta. Harga tersebut belum termasuk operasinya sekitar Rp 20 juta.

"Agar bisa operasi, saya harus pegang uang Rp 44 juta. Itu minimal," terangnya.

Yuli mengaku tak memiliki uang sebanyak itu.

Sehingga operasi suaminya itu terpaksa belum bisa dilakukan.

Pihaknya mengaku bingung harus bagaimana lagi.

Biaya pengobatan selama ini saja, menurut dia, sudah menghabiskan sedikitnya Rp 90 juta.

Uang tersebut didapatkan dari dana santunan Jasa Raharja Rp 20 Juta. BPJS Kesehatan membantu Rp 20 juta.

Namun BPJS tidak menanggung alat dari Singapura.

Selebihnya, Rp 50 juta didapatkan Yulianti dari uang pinjaman dan hasil menjual barang.

"Saya sudah pinjam ke bank, pinjam saudara, sudah jual motor, jual pohon jati, dan menyewakan lahan," kata Yuli. Sampai saat ini Heri masih harus kontrol setiap Senin di RSUP Sardjito.

Alami Saraf Mata dan Saraf Telinga yang Menyatu, Warga Bantul Terpaksa Hidup Tanpa Sinar Matahari

Soal biaya operasi yang mencapai puluhan juta rupiah itu, Yulianti mengaku akan bermusyawarah dengan pihak keluarga.

Suharsono kemudian mengatakan, dirinya kira-kira bisa dianggap sebagai bagian dari keluarga.

"Kalau (uangnya) sudah terkumpul berapa nantinya saya minta Pak Camat laporan. Nanti saya tambahi. Dari pribadi saya bukan dari kantor," ungkap Suharsono.

Diketahui, sakit yang diderita Heri Supriyanto itu akibat kecelakaan yang terjadi di Jalan Samas, tepatnya di depan Koramil Bambanglipuro pada 7 September 2019.

Kala itu, Motor yang dikendarai Heri berbenturan dengan sepeda motor dari arah berlawanan.

Ia terbanting ke kiri dan jatuh.

Heri sempat dilarikan ke rumah sakit Santa Elisabeth Ganjuran.

Namun kondisinya parah.

Ia kemudian dipindahkan ke RSUP dr Sardjito kota Yogyakarta.

Saat itu dokter mendiagnosa Heri mengalami gagal otak ringan, retak tulang pada bahu dan jari.

Kemudian ketika ia di-CT scan ternyata ada pula rembesan darah dibagian otak.

Ia menjalani perawatan medis selama 20 hari kemudian dibawa pulang.

Sampai dirumah, sering kambuh, Heri kemudian dibawa keluarga ke rumah sakit PKU Bantul.

Menjalani rawat inap selama 10 hari.

Namun, tak kunjung ada kabar baik.

Akhirnya kembali dirujuk untuk kedua kalinya ke RSUP Sardjito.

Disana, Heri kembali menjalani rawat inap selama 25 hari.

Kini sudah lebih dari empat bulan, Heri menjalani perawatan di rumah dalam kamar.

Bukan tanpa sebab, mengapa Heri terpaksa hidup dalam kegelapan.

Semua itu karena cahaya sinar matahari membuat matanya perih.

Bahkan sampai mengeluarkan cairan bening terus menerus.

Telinganya juga berdengung - dengung.

Ditambah lagi, pada bagian atas kelopak matanya mendadak langsung nyeri.

"Kalau kena sinar matahari rasanya itu sakit, perih, pedes sekali," kata Heri.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved