Pendidikan

Siswa SMP Negeri 2 Banguntapan Deklarasi Anti Klitih

Melalui deklarasi yang tersebut, diharapkan bisa menjadi pemicu bagi para pelajar untuk menegakan kembali semangat membela yang benar.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Siswa SMP Negeri 2 Banguntapan deklarasi Anti klitih dengan membubuhkan tandatangan. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Siang itu, ada yang berbeda di lingkungan sekolah SMP Negeri 2 Banguntapan Bantul.

Selepas upacara bendera di halaman sekolah, ratusan pelajar itu mendeklarasikan sebagai pelajar Anti-Klitih.

Bukan hanya klitih, namun komitmen juga untuk menjauhi hal hal negatif, seperti anti kekerasan, anti gank, anti bullying, anti drug dan anti premanisme.

Rangkaian dari acara deklarasi, ratusan pelajar itu kemudian satu persatu membubuhkan tanda tangan di selembar banner putih.

Disaksikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Isdarmoko, Komite Sekolah, Pak Lurah dan Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).

Pelajar SMP Negeri 2 Banguntapan Deklarasi Antiklitih

Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko, menyampaikan, melalui deklarasi yang tersebut, diharapkan bisa menjadi pemicu bagi para pelajar untuk menegakan kembali semangat membela yang benar.

Pihaknya mengaku prihatin, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota pendidikan, kota budaya dan pariwisata tercoreng dengan maraknya aksi klitih.

Terlebih dalam beberapa kasus, pelaku utamanya ternyata masih pelajar dibawah umur.

Berawal dari SMP negeri 2 Banguntapan, Ia berharap gerakan itu dapat memicu dan menginspirasi bagi sekolah-sekolah lain, baik yang ada di Kabupaten Bantul maupun di DIY.

"Sehingga kita harapkan, lingkungan sekolah bisa lebih kondusif dan siswa berprestasi secara maksimal. Tidak ada lagi klitih," tutur dia, seusai deklarasi, Senin (27/1/2020).

5 Tahap Mudah Tutorial Skincare Morning Routine, Jaga Kulit Wajah Agar Sehat Sedari Pagi

Dikatakan Isdarmoko, fenomena klitih saat ini menjadi perhatian serius, mengingat tidak lagi mengenal batas usia.

Bahkan, menurut dia pelakunya sudah mulai merambah sampai pelajar tingkat SMP.

Semua itu bisa terjadi karena mereka terpengaruh lingkungan negatif.

Anak-anak remaja, kata Isdarmoko, sedang mencari identitas dan jati diri sehingga rentan sekali terpengaruh negatif.

Butuh upaya bersama agar bibit klitih tidak masuk dunia sekolah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved