Kota Yogya

Mengintip Eksistensi Seniman Malioboro di Tengah Perkembangan Era Digital

Dalam perkembangan berbasis digital saat ini, Wawan karib disapa, tetap bertahan menjadi seniman pelukis wajah konvensional.

Mengintip Eksistensi Seniman Malioboro di Tengah Perkembangan Era Digital
TRIBUNJOGJA.COM / Andreas Desca Budi Gunawan
Seorang seniman pelukis wajah, Setiawan, yang sudah hampir 10 tahun menjual jasanya dikawasan Malioboro 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Andreas Desca Budi Gunawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah panasnya siang hari di kawasan Malioboro, tampak lalu-lalang kendaraan silih berganti melintasi Jalan Malioboro.

Di sudut-sudut pertokoan, nampak terlihat banyak warga yang banting tulang mencari nafkah dengan berbagai aktivitas yang dilakukan.

Satu diantaranya yakni seorang seniman pelukis wajah yang sudah hampir 10 tahun menjual jasanya di kawasan Malioboro ini.

Sebut saja namanya Setiawan, seorang seniman asal Temon, Kulon Progo.

14 Bus Trans Jogja Siap Layani Wisatawan dari Amongrogo dan Gembira Loka Menuju Kawasan Malioboro

Dalam perkembangan berbasis digital saat ini, Wawan karib disapa, tetap bertahan menjadi seniman pelukis wajah konvensional.

"Walaupun sekarang orang bisa membuat karya foto maupun lukisan secara digital, tapi tetap beda dengan hasil lukisan langsung. Nilai seninya beda, lebih ada kesan kalau lukisan nyata," ujarnya.

Pria lulusan SMK ini, mengakui bahwa saat ini peminat lukisan maupun sketsa wajah cukup berkurang drastis.

"Selama ini masih banyak yang minta digambar, walaupun sudah tidak seramai dulu. Kadang sehari ada 1 orang, kadang tidak ada sama sekali. Tapi karena udah jadi hobi, ya dijalani santai aja," imbuhnya.

Dia pun menceritakan bahwa dia lebih memilih menjadi pelukis daripada bekerja sebagai montir.

Halaman
123
Penulis: Andreas Desca
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved