Pendidikan
Prihatin dengan Pernikahan Usia Dini, Guru di Gunungkidul Ciptakan Model Pembelajaran Nalarku
Seorang guru Agama Islam di Gunungkidul berhasil menjuarai lomba guru berprestasi tingkat nasional.
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Seorang guru Agama Islam di Gunungkidul berhasil menjuarai lomba guru berprestasi tingkat nasional.
Ia membuat model pembelajaran bernama Nalarku.
Nalarku sendiri adalah model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan moral reasoning anak.
Arifin menjelaskan, moral reasoning adalah sebuah analisis sebelum anak melakukan tindakan negatif.
Misalnya saja ketika ada murid yang berpacaran dan satu di antaranya mengajak untuk berhubungan layaknya suami istri, anak bisa berpikir apakah akan mengikuti atau menolak.
• Gunakan APBD, Pemkab Sleman Naikkan Gaji Guru dan Pegawai Honorer Sekolah di 2020
Ide membuat model pembelajaran tersebut awalnya dari keresahan dirinya melihat angka dispensasi menikah di Gunungkidul yang menurutnya cukup tinggi.
"Data dari pengadilan agama pada tahun 2018 lalu pernikahan dini di Gunungkidul ada sebanyak 79 anak itu di usia SMP hingga SMA, berarti jika di rata-rata setiap sekolah SMA di Gunungkidul menyumbangkan setidaknya dua anak," katanya, Senin (25/11/2019).
Selain banyaknya pernikahan dini di Gunungkidul ada satu permasalahan lainnya yang melatarbelakangi dirinya membuat model pembelajaran adalah banyaknya kasus gantung diri di kabupaten Gunungkidul.
"Nalarku sebenarnya menitik beratkan pada moral reasoning pada anak, maksudnya jadi anak akan berpikir dua kali ketika akan melakukan hal-hal negatif. Moral reasoning inilah yang masih kurang di anak-anak Gunungkidul," jelasnya.
Dirinya mengkalim bahwa model pembelajaran Nalarku bisa diaplikasikan pada semua mata pelajaran di sekolah.
• Guru MIN 1 Kulon Progo Raih Juara II Anugerah Guru Tenaga Kependidikan Madrasah
Karena setiap mata pelajaran terdapat kompetensi dasar yang bersinggungan langsung dengan moral.
"Jadi murid diajarkan atau lebih diperkenalkan kepada budaya lokal, seperti bahwa budaya lokal kita masih menghargai sebuah keperawanan sehingga harus dijaga hingga nanti menikah," katanya.
Saat upacara peringatan hari guru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga menyinggung terkait dengan inovasi yang harus dilakukan seorang guru.
Dalam sambutan yang dibacakan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengimbau agar guru tidak terjebak pada pekerjaan yang bersifat administrasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/prihatin-dengan-pernikahan-usia-dini-guru-di-gunungkidul-ciptakan-model-pembelajaran-nalarku.jpg)