Tips Menghadapi Musim Pancaroba Agar Tidak Sakit

Tips Menghadapi Musim Pancaroba Agar Tidak Sakit Pernapasan atas, seperti pilek atau batuk,

Editor: Hari Susmayanti
rd.com
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Saat ini wilayah Indonesia tengah memasuki musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan.

Musim pancaroba pergantian musim kemarau ke musim penghujan biasa terjadi bulan Oktober hingga Desember.

Masa pancaroba biasa ditandai dengan frekuensi tinggi badai, hujan yang sangat deras disertai guruh, serta angin yang bertiup kencang.

Pada masa pancaroba biasanya frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti pilek atau batuk, relatif meningkat.

Melansir artikel Kompas.com berjudul "Mengapa Banyak Orang Sakit Saat Pergantian Musim?", di momen-momen pergantian musim ini, daya tahan tubuh serasa dipertaruhkan.

Kisah Ayu Irma Raharjani, Penjual Timus yang Sukses Menjadi Lulusan Terbaik IAIN Surakarta

Banyak orang yang mengalami flu, pilek, batuk atau berbagai penyakit lain yang tentunya menganggu aktivitas harian kita.

Lantas, mengapa perubahan cuaca membuat banyak orang rentan sakit?

Dr Bradley Chipps dari American College of Allergy, Asthma & Immunology mengatakan, pergantian musim biasanya menyebabkan peradangan di hidung karena alergi musiman.

Saat ini terjadi, virus menguasai area hidung kita sehingga sistem kekebalan tubuh sibuk untuk menangani alergi tersebut.

"Oleh karena itu, daya tahan tubuh untuk melindungi kita dari berbagai penyakit berkurang," kata Chipss.

Meski kita tak memiliki alergi musiman, kata Chipps, perubahan cuaca atau musim selalu diikuti perubahan suhu dan tekanan. Hal ini dapat mengiritasi saluran hidung dan membuat kita menderita pilek dan infeksi.

Permukaan Air Tanah Terus Alami Penurunan, Pemkot Yogya Ajak Warga Hemat Air

Penelitian juga menunjukkan flu biasa berkembang dalam suhu yang lebih dingin.

Penurunan suhu

Penelitian dari Yale University juga menemukan penurunan suhu sekitar tujuh derajat dapat mengacaukan kemampuan tubuh kita untuk menghentikan penyebaran virus dingin.

“Setiap kali kita terpapar infeksi, kita mencoba melawannya dengan mengeluarkan interferon untuk memblokir virus,” kata Akiko Iwasaki, seorang profesor imunobiologi di Yale School of Medicine.

Halaman
12
Sumber: Surya
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved