Gunungkidul

Naikkan Harga Jual Semangka, Warga Dusun Pampang Buka Kebun Buah Semangka

Petani semangka di Kebun Buah Dusun Pampang, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan membuka lahannya untuk dikunjungi langsung oleh pembeli.

Naikkan Harga Jual Semangka, Warga Dusun Pampang Buka Kebun Buah Semangka
Dokumentasi Pengelola Kebun Buah Pampang
Beberapa waktu lalu pengunjung sedang menikmati buah semangka di kebun Buah semangka Pampang. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Petani semangka di Kebun Buah Dusun Pampang, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan membuka lahannya untuk dikunjungi langsung oleh pembeli.

Ketua Kelompok Kebun Buah Semangka Pampang, Rohmat Asnawi mengatakan sebelum dibuka dan dikelola secara mandiri oleh karangtaruna, hasil panen semangka hanya dihargai paling tinggi Rp 2.500 perkilonya oleh para pengepul atau tengkulak.

Ia mengatakan Kebun Buah Semangka Pampang mulai dibuka pada musim panen tahun ini, dengan luas lahan sebesar 17 hektar.

Keceriaan Pedagang dan Juragan Sayur Berjoget Ria di Grebek Pasar Isuzu Traga 2019 Magelang

"Kami membantu para petani agar hasil dari panen ini harga tidak dipermainkan oleh para tengkulak. Selain itu dalam pengelolaan kebun ini kami juga memiliki tujuan untuk memberdayakan masyarakat," katanya, Jumat (20/9/2019).

Rohmat mengatakan ada berbagai jenis semangka yang dijual di Kebun Buah Semangka Pampang, dari semangka yang berbiji, tanpa biji dan jenis semangka inul dari ke tiga semangka dijual dengan harga bervariasi tiap kilonya.

"Untuk harga semangka dengan biji perkilonya Rp 3.500, tanpa biji Rp 6.500 lalu semangka Inul perkilonya Rp 4.500. Besok minggu kami buka kembali dengan berbagai macam varian buah dan sayuran," katanya.

Sambung Rohmat, untuk minggu besok tidak hanya semangka yang dijual tetapi juga buah melon, dan sayuran seperti Cabai, Timun, Terong.

Agar Tersentuh Danais, Disbud Gunungkidul Dorong Kecamatan Berubah Jadi Kapanewon

"Selain itu dengan adanya kebun buah ini diharapkan para pemuda tidak lagi malu untuk menjadi petani dan profesi petani kembali lagi digemari para pemuda tiadk perlu bekerja keluar kota," katanya.

"Kebun buah dibuka sampai habis buahnya kami menanam tidak berbarengan jadi panen buah bisa bergiliran," imbuhnya.

Ia mengatakan kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya suplai air saat musim kemarau seperti ini karena kebun tersebut hanya mengandalkan sumur yang ada di ladang.

Sebelumnya Wakil Bupati, Immawan Wahyudi dirinya mengapresiasi jika ada masyarakat yang membuka agro wisata.

"Kalau tidak mempunyai lokasi wisata ini bisa dibuat wisata alternatif berbentuk agro wisata, dan memperkaya serta menguatkan kembali Gunungkidul sebagai destinasi wisata," ujarnya. (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved