Gunungkidul

Agar Tersentuh Danais, Disbud Gunungkidul Dorong Kecamatan Berubah Jadi Kapanewon

Jika kecamatan dapat mengakses danais, maka kecamatan dapat leluasa melestarikan kebudayaan yang ada.

Agar Tersentuh Danais, Disbud Gunungkidul Dorong Kecamatan Berubah Jadi Kapanewon
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Teporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunungkidul harap segera ada perubahan nama dari Kecamatan menjadi Kapanewon, dikarenakan jika telah berganti nama maka Kecamatan dapat mengakses dana Keistimewaan (Danais).

Menurut Kepala Disbud Gunungkidul, Agus Kamtono jika kecamatan dapat mengakses danais, maka kecamatan dapat leluasa melestarikan kebudayaan yang ada di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul.

"Termasuk seni tradisi Tari Tayub yang ada di Kecamatan Semin, maka Kecamatan akan lebih mudah untuk melestarikan tarian tersebut. Semoga tahun ini dapat teralisasi," katanya saat ditemui Tribunjogja.com, Jumat (20/9/2019).

Keceriaan Pedagang dan Juragan Sayur Berjoget Ria di Grebek Pasar Isuzu Traga 2019 Magelang

Tak hanya perubahan nama kecamatan menjadi Kapanewon namun juga akses Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya untuk dapat mengakses dana Is juga diharapakan dapat segera terealisasi.

"Kami sedang berusaha untuk tahun depan OPD-OPD yang terkait dengan pekerjaan kebudayaan dapat menjadi pengguna anggaran langsung bukan kuasa pengguna anggaran. Jadi kalau pengguna anggaran langsu dari Surat Keputusan (SK) Gubernur, kalau kuasa pengguna anggaran itu dari dinas yang bersangkutan," katanya.

Ia mencontohkan saat ini Dinas Pekerjaan Umum (PU) menjadi Kuasa Pengguna Anggaran untuk menggarap gedung taman budaya.

"Selain itu saya harap tahun ini ada dua OPD yang dapat mengakses dana keistimewaan dua OPD tersebut adalah perdagangan dan pariwisata," katanya.

Wulenpari Penginapan Bergaya Resort di Gunungkidul

Menurutnya kedua dinas tersebut bersinggungan dengan kegiatan budaya, karena dalam kebudayaan banyak sekali produknya seperti makanan khas atau tradisional, lalu juga ada souvernir-souvernir yang membutuhkan pemasaran.

Selain itu kegiatan kebudayaan juga bisa disandingkan dengan Pariwisata dan dapat menambah jumlah kunjungan wisatawan di Gunungkidul.

Sebelumnya, Sesepuh Kelompok Tari Tayub Legorini, Gunem mengungkapkan Desa Karangsari, Kecamatan Semin saat ini sudah tidak ada regenerasi penari Tayub.

Jika dirinya mengalami kekurangan penari maka ia mengambil penari di luar penari tayub.

"Saya pengennya ada yang melanjutkan jadi tetap lestari, sekarang remaja lebih memilih untuk merantau ke Jakarta daripada menjadi penari Tayub," katanya. (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved