Human Interest Story

Balada Tukang Becak di Bantul, Berangkat Narik Sejak Pagi Demi Menjemput Rezeki

Setiap hari menjadi tukang becak, menurut Sukamto semakin tersisihkan seiring dengan maraknya transportasi berbasis digital.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Sukamto dan Tukijan, tukang becak yang biasa mangkal di simpang empat Gose, Kabupaten Bantul. 

Tukijan bercerita, menjadi tukang becak dari tahun ke tahun semakin susah. Sepi penumpang, minim pendapatan dan kalah dengan transportasi digital.

Bantu Orang

Meski minim penghasilan, Tukijan mengaku tetap bersyukur menjalani profesinya sebagai tukang becak.

Pasalnya, tukang becak yang identik dengan jalanan, selalu memberi kesempatan bagi dirinya untuk berbuat baik kepada orang lain.

Meski terkadang, beberapa kali niat ingin menolong justru merugikan dirinya sendiri.

Seperti misalnya, Ia bercerita, suatu ketika saat sepulang menarik becak, pada kisaran tahun 1990-an, dirinya menemukan sekarung kedelai yang akan dibuat tempe. Karung kedelai tersebut tergeletak di Jalanan.

"Tahun 90-an tempe masih makanan mewah. Saya menemukan sekarung di jalan. Saya kan kasihan. Saya cari-cari orang yang punya, tapi nggak ketemu," cerita dia.

Karena tidak menemukan siapa pemiliknya, Tukijan akhirnya membawa karung tersebut ke sebuah media massa di Bantul.

Ia berharap melalui media nantinya bisa membantu mengumumkan siapa yang merasa kehilangan kedelai.

Namun, setelah Tukijan bawa kedelai itu, dirinya justru malah disuruh membayar, karena dikira mengiklankan barang.

"Niat saya nulung tapi malah kepentung," tutur dia, sembari tertawa, mengenang peristiwa itu.

( Tribunjogja.com | Ahmad Syarifudin ) 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved