Human Interest Story
Balada Tukang Becak di Bantul, Berangkat Narik Sejak Pagi Demi Menjemput Rezeki
Setiap hari menjadi tukang becak, menurut Sukamto semakin tersisihkan seiring dengan maraknya transportasi berbasis digital.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pukul 05.00 pagi, Sukamto sudah mengayuh becak dari rumahnya di Guwosari, Pajangan, menuju simpang empat Gose, depan kantor DPRD Kabupaten Bantul.
Ia bersama 25 rekannya, sesama penarik becak setiap hari "mangkal" di sana.
Mereka sabar menunggu kedatangan calon penumpang.
"Berangkat jam 05.00 pagi. Pulangnya nanti jam 16.00 sore," kata Pria berusia 54 tahun itu, sembari duduk di atas tunggangannya.
Sukamto bercerita, dirinya sudah menjadi tukang becak sejak masa Pemerintahan Soeharto, tepatnya tahun 1996. Jika dihitung, sampai saat ini sudah 23 tahun.
Awalnya, ia mengaku biasa mengayuh transportasi roda tiga itu di seputaran pasar Ngasem, kota Yogyakarta.
Namun, ketatnya persaingan akhirnya membawa Sukamto hijrah ke Bantul.
"Sudah 10 tahun saya disini. Mangkal di Bantul," terang dia.
Dapat Rp15 ribu - Rp25 ribu Perhari
Setiap hari menjadi tukang becak, menurut Sukamto semakin tersisihkan seiring dengan maraknya transportasi berbasis digital.
Ia menyadari sepenuhnya, teknologi memang tak bisa ditolak.
Namun apa daya, bapak satu anak ini mengaku hanya bisa bertahan.
"Awalnya, setiap hari saya dapat lima penumpang. Tapi semakin kesini semakin susah. Kadang-kadang yang pasti dapat Rp 25 ribu. Tapi seringnya cuma Rp15 ribu. Itu cuma narik satu," ujar dia, pasrah.
Selain Sukamto, tukang becak yang biasa mangkal di simpang empat Gose, ada Tukijan.
Ia sudah 32 tahun menjadi penarik becak, tepatnya, sejak tahun 1987.
Tukijan bercerita, menjadi tukang becak dari tahun ke tahun semakin susah. Sepi penumpang, minim pendapatan dan kalah dengan transportasi digital.
Bantu Orang
Meski minim penghasilan, Tukijan mengaku tetap bersyukur menjalani profesinya sebagai tukang becak.
Pasalnya, tukang becak yang identik dengan jalanan, selalu memberi kesempatan bagi dirinya untuk berbuat baik kepada orang lain.
Meski terkadang, beberapa kali niat ingin menolong justru merugikan dirinya sendiri.
Seperti misalnya, Ia bercerita, suatu ketika saat sepulang menarik becak, pada kisaran tahun 1990-an, dirinya menemukan sekarung kedelai yang akan dibuat tempe. Karung kedelai tersebut tergeletak di Jalanan.
"Tahun 90-an tempe masih makanan mewah. Saya menemukan sekarung di jalan. Saya kan kasihan. Saya cari-cari orang yang punya, tapi nggak ketemu," cerita dia.
Karena tidak menemukan siapa pemiliknya, Tukijan akhirnya membawa karung tersebut ke sebuah media massa di Bantul.
Ia berharap melalui media nantinya bisa membantu mengumumkan siapa yang merasa kehilangan kedelai.
Namun, setelah Tukijan bawa kedelai itu, dirinya justru malah disuruh membayar, karena dikira mengiklankan barang.
"Niat saya nulung tapi malah kepentung," tutur dia, sembari tertawa, mengenang peristiwa itu.
( Tribunjogja.com | Ahmad Syarifudin )