Pendidikan

Masih Ada 5 RS PTN yang Belum Beroperasi

Dari 25 Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RS PTN) yang ada di Indonesia, sampai dengan saat ini masih ada 5 RS PTN yang belum beroperasi.

Masih Ada 5 RS PTN yang Belum Beroperasi
Istimewa
Konferensi Nasional ke-2 ARSPTN yang diselenggarakan di Hotel Royal Ambarukmo pada Jumat (23/8/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dari 25 Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RS PTN) yang ada di Indonesia, sampai dengan saat ini masih ada 5 RS PTN yang belum beroperasi.

Kelima RS PTN tersebut yakni RS Universitas Negeri Jember (Unej), RS Universitas Nusa Cendana (Undana), RS Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), RS Universitas Lampung (Unila), serta RS Universitas Malikussaleh (Unimal).

Direktur Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI), Prof. Aris Junaidi menerangkan, kelima RS PTN yang belum beroperasi tersebut diakibatkan terkendala dibeberapa hal, seperti sistem, tata kelola, maupun kelembagaan.

Saat ini pihak Kemenristekdikti sedang berupaya menggodok Peraturan Menteri mengenai RS PTN dan diperkirakan akhir tahun ini peraturan tersebut sudah terbit.

Strategi Menuju Kemandirian RSPTN di Era JKN

"Masih ada banyak kendala, tata kelola, kelembagaan, padahal di Kemenristekdikti kebijakan diberikan otonom kepada PTN untuk mengelola. Sudah lama berdiri, tapi tata kelola masih bingung, oleh karenanya saat ini peraturan di Kemenristekdikti sedang diatur sebelum ditetapkan, agar nanti pengelolaan mengacu ke Peraturan Menteri," ungkapnya.

Menurutnya, dengan adanya Peraturan yang akan dikeluarkan tersebut, nantinya kelima RS PTN tersebut diharapkan bisa segera beroperasi. Namun, ketika peraturan sudah turun dan RS PTN tersebut tidak kunjung beroperasi, maka Kemenristekdikti bisa segera memberikan sanksi.

"Setelah ada Peraturan, ada masa transisi, monitoring dan evaluasi. Kita carikan solusi. Kalau tetap beroperasi maka akan ada sanksi. RS pendidikan memang target utama untuk pendidikan, pengabdian masyarakat, penelitian harus jalan," terangnya.

Arief Budiyanto Direktur Rumah Sakit Akademik UGM mengatakan sampai dengan saat ini RS PTN masih membutuhkan subsidi SDM sampai dengan keuangan.

Menurutnya, di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini, pembiayaan masih menjadi kendala bagi RS PTN.

"Karena pasien BPJS itu biaya dari BPJS. Kadang tarif Rs lebih tinggi ketimbang tarif yang dibayarkan oleh BPJS. Dengan demikian kita kadang kita harus lakukan subsidi silang dari selisih positif dan negatif, ditambah lagi biaya pendidikan," ungkapnya.

Terkait Wacana Penghapusan Prodi yang Tak Lagi Relevan, PTN Yogyakarta Punya Cara Sendiri

Halaman
12
Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved