Harga Rendah, Petani Bawang Merah di Bantul Tunda Penjualan
petani lebih memilih menunda penjualan sementara, sembari menunggu harga membaik.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Harga bawang merah ditingkat petani di Kabupaten Bantul pada masa panen musim kemarau tahun ini dinilai masih rendah.
Alhasil, petani lebih memilih menunda penjualan sementara, sembari menunggu harga membaik.
"Petani bawang merah di Samas rata-rata sudah panen. Tapi masih dijemur dirumah semua, sambil menunggu harga naik. Caranya begitu," kata Subandi, Ketua paguyuban petani bawang merah lahan pasir Samas, dihubungi Jumat (23/8/2019).
Bawang merah olahan lahan pasir saat ini, kata dia, harganya berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp7 ribu perkilogram. Tergantung seri, kualitas dan ukuran.
"Kalau yang Rp5 ribu itu yang kualitas Bs (sudah disortir)," kata dia.
Subandi tak menampik harga komoditas bumbu dapur itu beberapa waktu lalu pernah di angka Rp5 ribu perkilogram.
Namun, harga tersebut menurutnya karena faktor kualitas.
"Hari-hari kemarin sempat Rp5 ribu. Masalahnya Bawangnya termasuk kurang bagus, harga yang paling terjelek gitu lho. Tapi kalau lahan pasir ini panennya bagus," ujar dia.
Saat ini, kata dia mayoritas petani Bawang merah di lahan pasir Samas sudah panen.
Mereka menjemur hasil panen supaya kering sembari menunggu harga naik.
Subandi optimis harga akan kembali naik.
"Kalau saya melihat pasar infonya dari pedangang harga hari ini sudah mulai merangkak naik," tutur dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Distribusi dan Harga Bahan Kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, Zuhniyatun Nur Handayani, mengatakan harga komoditas bawang merah cenderung turun, karena disebabkan oleh stok yang melimpah. Di beberapa daerah saat ini menurut dia sedang panen raya.
"Dari hasil pantauan di pasar untuk harga bawang merah memang turun. Rata-rata Rp20 ribu perkilogram," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/harga-bawang-merah-dan-bawang-putih-di-pasar-tradisional-bantul-mengalami-kenaikan.jpg)