Yogyakarta
Refleksi Peristiwa Kudatuli dari Yogyakarta
Sebagai satu di antara peristiwa penting, Kudatuli perlu untuk direfleksikan mengingat latar belakang sejarah yang jadi buntut dari kejadian tersebut.
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Paguyuban Banteng Revolusi Gedongtengen menggelar renungan dan sarasehan tentang kilas balik peristiwa 27 Juli 1996 di Hotel Permata Jalan Dagen, Jumat (26/7/2019) malam.
Sebagai satu di antara peristiwa penting, kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang lazim disebut Kudatuli dianggap perlu untuk direfleksikan, mengingat latar belakang sejarah yang menjadi buntut dari kejadian tersebut.
Dari pantauan Tribunjogja.com, ikut serta dalam kegiatan tersebut sesepuh dan tokoh PDI P setempat, tokoh PNI, pengurus anak ranting (PAC) PDI P, serta tokoh lintas agama.
Supriyadi, seorang pelaku sejarah yang ikut menyaksikan rentetan peristiwa tersebut berkisah, peristiwa Kudatuli tidak terlepas dari gejolak yang juga berlangsung di daerah.
• Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual
Dia mengklaim, Yogyakarta menjadi satu dari beberapa titik picu meletusnya Kudatuli.
Peristiwa bermula dari hasil Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 2-6 Desember 1993 yang menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum secara "de facto".
"Tapi secara de jure pemerintah Orde Baru tidak mau mengakui," tutur Supriyadi.
Kepemimpinan Mega saat itu terus 'digoyang' oleh kubu Soerjadi.
Di Yogyakarta, berbagai acara yang diselenggarakan oleh pengurus yang pro PDI Soerjadi selalu dibubarkan oleh massa yang pro kepemimpinan Mega.
"Dimana-mana selalu dibubarkan, pokoknya di seluruh DIY selalu kita counter. Mau di Bantul, Sleman, Wonosari, Kulon Progo, kita maju dari Satgas PDI Yogyakarta," imbuhnya.
• Politisi Muda PDIP Eko Suwanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Lawan Terorisme dan Radikalisme
Dilanjutkan Supriyadi, kejadian itu kemudian berpuncak pada perebutan kantor DPD PDI oleh massa pro Mega yang berada di daerah Badran, Jalan Tentara Pelajar pada 20 Juli 1996.
"Saat itu dipimpin oleh Tarigan Sibero selaku Ketua PDI DPD DIY pro Mega. Terjadi cekcok dan keributan, kemudian aparat datang dan kita diboyong sebanyak lima orang," ujarnya.
Kelima orang dari PDI pro Mega tersebut kemudian digelandang ke markas Kodim.
Supriyadi mengaku, mereka diperiksa selama kurang lebih sembilan jam, mulai dari pukul 23.30-09.00 Wib.
Supriyadi yang saat itu diamanatkan sebagai Komandan Satgas diinterogasi paling lama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/refleksi-peristiwa-kudatuli-dari-yogyakarta.jpg)