Gunungkidul

Dinpar Gunungkidul Siapkan Revalidasi Geopark Gunungsewu

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan tim asesor dari UNESCO telah mendatangi kawasan geopark.

Dinpar Gunungkidul Siapkan Revalidasi Geopark Gunungsewu
Tribun Jogja/ Rendika Ferri K
Ilustrasi: Stone Garden di Geopark Gunungsewu Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Geopark Gunungsewu yang terletak di 3 Kabupaten Yaitu di, Pacitan Jawa Timur, Wonogiri Jawa Tengah, dan Gunungkidul DIY pada tahun ini mulai direvalidasi oleh tim asesor dari UNESCO apakah layak menjadi warisan dunia atau tidak.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan tim asesor dari UNESCO telah mendatangi kawasan geopark.

Dalam menghadapi revalidasi pihaknya telah mempersiapkan dari dua tahun lalu.

Pemkab Gunungkidul Kesulitan Kembangkan Area Geopark Gunungsewu

"Salah satu langkahnya adalah mengembangkan 13 geosite yang ada dengan mempertimbangkan 3 fungsinya yaitu konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat," katanya, Senin (22/7/2019).

ia mencontohkan satu diantaranya pengelolaan yang tergolong sudah bagus adalah Nglanggeran.

Namun, dirinya mengakui masih belum semua daerah bsa dikembangkan seperti Gunung Api Purba Nglanggeran.

"Tetapi kami tetap optimis status geopark tidak akan lepas. Hari ini dua orang aseseor dari UNESCO langsung ke Pacitan, dan nanti malam akan ada paparan dari GM Geopark Gunung Sewu Pak Budi (Budi Martana) setelah menginap dilanjutkan ke Wonogiri, dan Gunungkidul," kata Asti.

Terpisah, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengatakan dengan adanya penetapan dari UNESCO dapat menjaga marwah dan kehormatan sebuah daerah.

Materi Geopark Gunungsewu Diwacanakan Masuk Muatan Lokal di Sekolah Gunungkidul

"Jaringan internasional sangat penting, bagi kemajuan daerah, dan saya bersyukur karena sudah mendapatkan penetapan karena daerah-daerah yang telah mengajukan lebih dahulu mallah belum mendapatkan pengakuan," ujar Immawan.

Akan tetapi menurutnya masih ada satu ganjalan kecil yang ia rasakan.

Yaitu terkait dengan pemanfaatan lahan karst yang dimiliki oleh masyarakat Gunungkidul karena ditakutkan dapat merusak ekosistem.

"Ini kan ada dua sisi yang bertolak belakang, warga dijamin uud memiliki aset lahan sebagai modal untuk hidup dan penghidupan. Sisi lain pentingnya pelestarian alam," ucapnya.

Ia menakutkan bahwa pengelolaan lahan karst yang dimiliki oleh masyarakat Gunungkidul dianggap tidak peduli dengan misi dari geopark, dan permaslaahan tersebut harus segera diselesaikan.

"Harus ada kepastian apakah nantinya lahan karst akan benar-benar dilarang. Konsekuensi pemerintah memberikan kompensasi. Kalau tidak ada kompensassi tidak adil apapun alasannya," ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved