Sleman
Tebing Breksi, Bekas Lokasi Tambang yang Sukses Jadi Destinasi Wisata Favorit di Yogyakarta
Kawasan Tebing Breksi yang di tahun 2015 hanya dikunjungi rata-rata 10 sampai 20 orang perhari kemudian meningkat sampai ratusan orang per hari tahun.
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Lebih dari tiga dekade sejak tahun 1980 hingga 2015, sebagian warga Sambirejo, Prambanan, Sleman mengandalkan hasil tambang dari sebuah tebing batuan breksi sebagai sumber mata pencaharian mereka.
Menambang jadi satu-satunya upaya yang bisa dilakukan di atas tanah pelungguh (kas desa) tersebut karena kontur tanah yang keras dan nyaris tak bisa ditanami.
Di tengah aktifitas tambang, muncul ketertarikan akademisi dari beberapa kampus ternama di Yogyakarta seperti UPN Veteran Yogyakarta dan UGM Yogyakarta sekitar tahun 2000 untuk meneliti Tebing Breksi.
Dari penelitian ini ditemukan hasil bahwa tebing breksi di Sambirejo merupakan endapan abu vulkanik gunung api purba yang masuk dalam kategori langka di dunia.
• 5 Rekomendasi Mie Ayam di Jogja, dari yang Super Pedas sampai Buka Tengah Malam
Hingga akhirnya awal tahun 2015 keluar Surat Keputusan (SK) dari Kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) yang menerangkan bahwa Tebing Breksi masuk kawasan konservasi geoheritage.
SK ini menjadi penegas, bahwa kawasan tebing breksi tak bisa lagi dilakukan penambangan karena masuk dalam kawasan yang dilindungi negara.
Dinas Pariwisata DIY bergerak membidik tebing breksi sebagai target pengembangan wisata.
Bantuan sebuah bangunan amphitheater dibuat, sebagai perangsang tumbuhnya kawasan wisata tebing breksi.
Peresmian yang dilakukan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X tahun 2015 kemudian semakin menegaskan transisi kawasan tambang breksi menjadi lokasi wisata.
Butuh perjuangan ekstra untuk mengenalkan Tebing Breksi.
Inovasi para pelaku wisata dari Komunitas Peduli Wisata bersama warga perlahan muncul dengan menggelar banyak aktifitas kesenian, olahraga dan pentas budaya di Tebing Breksi.
• Kepadatan Jalur Wisata Sebabkan Kunjungan Tebing Breksi Turun
Arahnya, adalah mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk datang ke Tebing Breksi lewat acara di dalamnya.
“Yang kita pikirkan waktu itu, orang tahu dulu tebing breksi. Kalau sudah datang ke sini, harapan kita mereka datang lagi dan mengajak lebih banyak orang. Kita undang banyak komunitas seperti komunitas otomotif, sepeda lalu juga didukung komunitas peduli wisata termasuk Mangunan dan Nglanggeran,” kata Muhammad Halim selaku Pengelola Wisata Tebing Breksi pada Tribunjogja.com.
Perlahan tapi pasti, kawasan Tebing Breksi yang di tahun 2015 hanya dikunjungi rata-rata 10 sampai 20 orang perhari kemudian meningkat sampai ratusan orang per hari tahun 2016.
Seakan tak cepat puas, para pengurus dan pengelola lalu terus berinovasi dengan menambah kegiatan seni dan hiburan.