Yogyakarta

Serunya 'Ngalap Berkah' Saat Prosesi Gerebeg Syawal

Bagi wisatawan yang mengaku seminggu berlibur di Yogya ini, perebutan gunungan layaknya atraksi atau pertunjukan yang mengasyikan.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
GREBEG SYAWAL - Prosesi Grebeg Syawal yang digelar sebagai wujud syukur dan peringatan hari raya Idul Fitri 1440 H di komplek Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Rabu (5/6/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja,  Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA. COM,  YOGYA - Warga masyarakat bahkan wisatawan asing antusias mengikuti tradisi gerebeg Syawal yang diselenggarakan di kompleks Kepatihan, Rabu (5/6/2019).

Tradisi ini dianggap warga sebagai salah satu acara rutin sekaligus ngalap berkah. 

Tangan ibu Hartono nampak menggenggam seikat kacang panjang dan segenggam cabe keriting.   

Kacang panjang ini didapatkan dari gunungan sayuran yang diperebutkan di kompleks Kepatihan. 

Hitungan Menit, Gunungan Grebeg Syawal Ludes

Warga Kelurahan Suryatmajan,  Kota Yogyakarta ini mengaku setiap tahun mengikuti prosesi gerebeg Syawal. 

Dia pun menyebut tradisi ini punya makna tersendiri baginya. 

Dia juga mengungkapkan, hasil bumi berupa sayuran tersebut akan dibuat menjadi masakan yang dapat disantap sekeluarga. "Berharap dapat berkah saja untuk kesehatan dan keselamatan diri saya dan keluarga.  Setiap tahun selalu ke sini,  khan ada tiga kali gerebeg setiap tahun, " ujarnya. 

 Ratusan Warga Meriahkan Grebeg Syawal Puro Pakualaman

Prosesi ini tak luput dari perhatian wisatawan asing

Anne, seorang wisatawan asal Australia mengaku tertarik dan takjub dengan prosesi perebutan gunungan. 

Bagi wisatawan yang mengaku seminggu berlibur di Yogya ini, perebutan gunungan layaknya atraksi atau pertunjukan yang mengasyikan.

 "Ini terlihat sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya saya melihat. Saya sangat terkesan. Kalau ini adalah pemberian dari raja, pasti maknanya sangat besar," katanya. 

Tradisi Grebeg Syawal merupakan prosesi adat sebagai simbol Hajad Dalem (sedekah) serta kedermawanan Sultan kepada rakyatnya berupa gunungan.

Kata grebeg berasal dari kata gumrebeg yang memiliki filosofi sifat riuh, ribut, dan ramai.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved