Yogyakarta

Kenali Daging Glonggongan Agar Tidak Tertipu

Maka dari itu, ia menganjurkan agar masyarakat dapat membeli daging di rumah pemotongan hewan (RPH) yang sudah jelas kualitasnya.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
tribun jogja/agung ismiyanto
Ilustrasi: Petugas gabungan amankan ratusan kilogram daging sapi gelonggongan dari pedagang pasa Gotong Royong dan pemasok asal Boyolali, Selasa (30/6/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Hari raya Idul Fitri sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga.

Makan bersama pun menjadi rutinitas wajib dengan hidangan berbagai olahan daging.

Oleh karena itu, kebutuhan akan daging sapi akan mengalami peningkatan.

Namun demikian, hati-hati dalam memilih daging sapi agar tidak tertipu dengan daging glonggongan.

Harjanto, Kabid pertenakan dan Kesehatan Hewan dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman mengatakan menjual daging glongogan adalah tindakan penipuan yang dilakukan untuk mengelebui pembeli.

Begini Cara Licik Pedagang Ayam Glonggongan di Luar Negeri

Daging memang terlihat besar dan berat, namun ternyata itu dikarenakan air yang terkandung di dalam daging.

Dinamakan glongongan karena ternak yang akan disembelih, biasanya sapi, diberi minum secara berlebihan sebelum disembelih.

Penyiksaan hewan seperti itu, bertujuan untuk menambah berat daging dengan air yang diglonggongkan ke hewan yang akan disembelih.

"Konsumen tertipu karena dagingnya berisi air," ujarnya, Selasa (4/6/2019)

Ia pun membagikan trik agar masyarakat terhindar dari daging glonggongan.

Cara mudah untuk membeli daging bukan glongongan adalah cari daging yang dijual secara digantung.

"Penjual daging glonggongan tidak mau menggantung dagingnya. Karena nanti air akan menetes. Daging itu diletakan di bawah, itu pun dialasi agar tidak kelihatan air yang menetes," terangnya.

Leblouh, Tradisi Glonggongan Secara Paksa agar Gadis menjadi Lebih Gemuk

Warna daging juga menjadi pucat dan permukaannya terlihat basah.

Selain itu daging glonggongan akan dijual lebih murah.

Ia menjelaskan kemungkinan daging glonggongan masuk lantaran adanya permintaan yang tinggi.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa selama ini pihaknya terus melakukan pemantauan perdagangan daging di Sleman.

Jika ditemukan daging glonggongan, biasanya itu berasal dari luar Sleman, dan itu dijual di pasar-pasar yang berada di pinggir Sleman.

Sebagai upaya agar tidak ada daging glonggongan menyebar di Sleman, pihaknya selalu melakukan pemeriksaan di pasar-pasar.

"Bagi penjual yang mengedarkan daging tidak layak, akan langusng kami sita di tempat. Dan pedagang bisa kena tindak pidana ringan (tipiring)," terangnya.

Maka dari itu, ia menganjurkan agar masyarakat dapat membeli daging di rumah pemotongan hewan (RPH) yang sudah jelas kualitasnya.

Di Sleman terdapat dua RPH, yakni di Mancasan untuk daging sapi, dan di Kentungan untuk daging kambing dan domba.

Di RPH, ternak yang akan disembelih dipastikan sehat terlebih dahulu.

Setelah itu daging pun akan diberi cap, yang mendakan layak dan aman untuk dikonsumsi.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved