Kota Yogyakarta

Pelepah Pisang dan Kulit Jagung Jadi Busana Etnik yang Unik

Hal tersebut yang terlihat dalam kegiatan Kartini Cinta Bumi yang diselenggarakan SDN Ungaran 1.

Tayang:
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Siswa kelas 2D SDN Ungaran 1, Adelia Emeriy Callista yang berpose menganakan gaun pelepah pisang. 

Selanjutnya untuk menunjang totalitas penampilan anak sulungnya tersebut, Retno juga membuat sepatu boots yang juga berbahan pelepah pisang serta bandana pelepah pisang dengan kulit jagung yang disulap menjadi bunga.

"Butuh waktu selama tiga minggu untuk jadi satu busana," ucapnya.

Ia mengatakan, bahwa baru dirinya yang memulai mengkreasikan limbah alam menjadi baju di SDN Ungaran 1.

Sejauh ini sudah ada 2 busana yang ia hasilkan, yakni karya perdananya merupakan gaun kulit jagung dan yang terbaru gaun pelepah pisang.

Ibu dua anak ini menjelaskan bahwa untuk perawatan gaun tersebut gampang-gampang susah.

Pasalnya kedua gaun tersebut harus tetap dijaga agar selalu kering dan tidak boleh terkena air untuk menghindari risiko berjamur dan lapuk.

Baca: Siswa SMPN 8 Yogyakarta Inovasikan Pelepah Pisang Jadi Pendingin Ruangan

"Sebenarnya bisa ditambahkan lapisan yang fungsinya untuk lebih awet. Tapi ini semua masih alami dan keduanya disimpan sekolah untuk dipamerkan ketika ada pameran," terangnya.

Sementara itu, bagi Adelia, ini adalah kali pertama ia mengenakan busana daur ulang limbah alam ciptaan sang bunda.

Meski sudah ada dua busana, namun ia mengatakan baru pada kesempatan tersebut menjajalnya secara langsung.

"Tidak berat, dan tidak gatal. Cuma kalau duduk susah karena harus cari kursi yang tanpa sandaran," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia acara Kartini Cinta Bumi, Dede Hermawan mengatakan menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi yang waktunya berdekatan sehingga pihaknya berinisiatif untuk menggabungkan keduanya dan mengusung tema Kartini Cinta Bumi.

"Kegiatan ini bertujuan mengajak siswa dan semua warga mengenal dan mengingat kembali nilai dan sosok Raden Ajeng Kartini. Selanjutny mereka juga diharapkan peka terhadap lingkungan, sehingga ketika terjun di lapangn terbiasa mencintai lingkungan," bebernya.

Ia pun menjelaskan untuk kegiatan fashion show yang mengharuskan siswa menggunakan bahan daur ulang, ada ketentuan yang harus dipenuhi.

Misalkan mengandung unsur kain perca, kemasan produk botol dan plastik, bahan alam, dan sebagainya untuk diubah dalam suatu kreasi seni.

"Yang bikin bukan siswanya memang, tapi orang tuanya. Meski demikian, harapannya anak-anak bisa tahu, oh ini bisa diolah lagi dan jadi baju dan sebagainya yang punya nilai jual. Nantinya mereka juga diharapkan memiliki keterampilan ke sana, tapi ditanamkan kognitifnya dulu," tandasnya.(TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved