International Visitor Leadership Program
Menikmati Kota San Francisco dari Atas Cable Car
Memang, tak sembarang transportasi publik bisa mengatasi jalanan San Francisco yang berkelok dan naik turun secara tajam.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM - Menuju ke San Francisco dari Sacramento bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar dua jam.
Berbeda dari jalur darat Washington DC ke Philadelphia yang dipenuhi pepohonan dan perumahan, jalur di California menunjukkan wajah khasnya.
Jalan raya utama antara Ibukota Negara Bagian California dan kota yang terkenal dengan Golden Gate ini menembus hamparan padang gurun dan perbukitan gersang.
Lebih dari seperempat perjalanan bersisian dengan jalur rel yang membelah hamparan pertanian.
Selain jagung, ada pula ladang gandum, tebu, bahkan padi.
Sesekali jalanan membelah perkebunan buah-buahan terutama mangga.
Baca: Tantangan Penerbangan Belasan Jam dari Jakarta ke Washington DC
Semakin mendekati San Francisco, semakin gersang pula pemandangan dengan gamparan perbukitan yang hanya ditumbuh rumput, namun rumputnya menjelang musim dingin tentu saja mengering.
Setelah menyeberang teluk San Francisco, tibalah kami di kota dengan gedung-gedung tingginya.
Hotel tempat menginap di kawasan Financial District melintasi banyak ruas jalan utama.
Bus-bus listrik dengan pantograf (Semacam alat untuk mengambil listrik dari kabel yang membentang di sepanjang jalur bus) cukup banyak kami temui.
Namun, satu blok menjelang Financial District, satu kendaraan ciri khas San Francisco melintas dengan loncengnya yang khas.
Ialah cable car alias tram khas San Francisco yang sedang mengangkut penumpang mendaki jalanan di tengah kota yang berbukit ini.
Baca: Menjelajah Washington DC, Kota Sejuta Monumen
Jalur tanjakan yang terjal nampaknya tidak menjadi masalah untuk kendaraan mungil yang legendaris ini.
Segera setelah check in dan makan siang di kawasan Pecinan, Tribun bersama seorang rekan mencoba tram ini.
Awalnya, kami kebingungan.
Tak nampak halte maupun petugas yang menjual tiket.
Membuka internet pun tak banyak membantu karena penjelasannya cukup rumit.
Namun kami mengamati beberapa orang yang berdiri di samping papan khusus bergambar tram.
Olala, ternyata, papan tersebut berfungsi sebagai tempat perhentian.
Orang yang ingin naik cukup berdiri di dekat papan dan melambaikan tangan ketika tram datang.
Maka, masinis tram pun akan berhenti dan memberi kesempatan naik.
Baca: Kucing-kucingan Mencari Gorengan di Amerika
Dalam tram berukuran sekitar 3x8 meter tersebut terbagi dalam tiga bagian.
Bagian depan merupakan area terbuka dengan tempat duduk samping yang membelakangi tuas kendali masinis, kemudian area tertutup di bagian tengah, dan area terbuka lagi di bagian belakang.
Meski mungil, namun cable car ini sanggup menampung sekitar 60 orang dengan separuh di antaranya duduk.
Tentu ini menjadi atraksi yang unik ketika cable car yang dipenuhi orang bergelantungan di depan dan belakang, berpegangan pada handle yang disediakan, mendaki jalanan San Francisco yang terjal.
Sesekali, tram berhenti ketika bertempu dengan simpang empat dan lampu lalu lintas sedang merah.
Atau, sesekali masinis harus mengurangi kecepatan ketika ada kendaraan berbelok di depannya.
Karena berjalan di jalan raya, tentu tram mengikuti rambu lalu lintas.
Hal ini berbeda dengan kereta api Indonesia yang berjalan di jalan raya misalnya Railbus Batara Kresna di Solo. Kereta tetap melaju meski lampu lalu lintas merah.
Baca: Seperti Apakah Kuliner Khas Amerika?
Cable Car ini menjadi satu dari beberapa ikon San Francisco. Kendaraan ini menjadi atraksi yang tak boleh dilewatkan turis ketika berkunjung ke sini. Hanya dengan membayar 7 Dollar, pengunjung bisa naik hingga ke ujung jalur.
Baik naik dari tengah jalu maupun ujung ke ujung, tarifnya sama.
Beberapa saat setelah naik, seorang kondektur akan meminta penumpang membayar.
Sebagai tanda pembayaran diberikan semacam karcis berwarna biru.
Sebagai Ikon kota, Cable Car ini memiliki sejarah panjang.
Sempat memiliki 23 jalur yang dibangun pada 1873-1890, kini cable car hanya memiliki 3 jalur yang masih tetap beroperasi dengan masing-masing jalur sepanjang sekitar 3-4 kilometer.
Dibanding dengan biaya yang dikeluarkan, nampaknya memang mahal.
Namun pengalaman yang didapatkan sebanding.
Di sepanjang perjalanan penumpang menikmati pemandangan kota dengan perpaduan gedung modern dan peninggalan bersejarah.
Tram ini menjadi alat transportasi yang lumayan dibanding harus berjalan kaki mendaki jalanan yang curam.
Memang, tak sembarang transportasi publik bisa mengatasi jalanan San Francisco yang berkelok dan naik turun secara tajam.
Cable Car ini sempat menjadi primadona sebelum gempa bumi besar menghancurkan sebagian besar wilayah San Francisco pada 1906.
Desakan untuk mengganti Cable Car dengan tram listrik tak terhindarkan lagi sehingga pada 1912 hanya tersisa delapan jalur yang masih menggunakan tenaga tarikan kabel.
Untuk bergerak, cable car ini memang mengandalkan tarikan kabel yang berada di bawah tanah di sepanjang jalur.
Bunyi bel pun terdengar bila kita mendekatkan telinga ke jalur cable car.
Ketika berjalan, ada semacam alat pengait pada tram menuju kabel. Ketika berhenti, kait dilepaskan. Dengan teknologi ini, tram bisa mendaki tanjakan terjal.
Namun datangnya bus listrik pada 1944 semakin menekan keberadaan cable car dengan hanya lima jalur yang tersisa.
Tram listrik memang tak bisa mengatasi tanjakan terjal, namun bus listrik mudah melibasnya.
Pada 1947, jajaran pemerintahan kota bermaksud menutup dua jalur cable car.
Namun hal ini mendapat tentangan keras dari warga.
Dari referendum yang digelar, kelompok pendukung kelestarian cable car menang telak sehingga jalur yang ada tetap dipertahankan.
Baca: Menjelajah Chicago, Kota Di Bawah Awan
Namun pada 1951 tiga jalur harus ditutup karena perusahaan yang mengoperasikan tidak mampu memenuhi tanggung jawab pada perusahaan asuransi.
Upaya untuk mempertahankan tiga jalur ini tidak sesukses upaya pada 1947.
Beberapa tahun kemudian, moda transportasi ini dianggap tidak aman sehingga harus ditutup untuk diperbaiki.
Namun baru pada 1984 ketika Dianne Feinstein menjadi Walikota, perbaikan menyeluruh dilakukan dengan biaya sekitar 60 juta dollar yang diperoleh dari pemerintah Federal.
Baca: Melihat Lebih Dekat Kacang Chicago yang Sukses Hadirkan Jutaan Turis Melihatnya
Kini, tiga jalur yang tersisa memang tak lagi menjadi andalan warga untuk bepergian karena berbagai wilayah kota sudah bisa dijangkau bus.
Namun, cable car ini menjadi wahana yang diminati turis dengan sekitar tujuh juta turis yang diangkutnya setiap tahun.
Dibalik kesuksesannya, cable car ini juga menjadi perhatian pemerintah karena tingginya risiko kecelakaan.
Di balik atraksi yang menarik tentu ada risiko dan biaya yang harus ditanggung.(TRIBUNJOGJA.COM / Rento Ari Nugroho)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cable-car-melintas-di-kawasan-pecinan-kota-san-francisco-di-negara-bagian-california.jpg)