Bantul

Kesempatan Terakhir Belajar Tata Cara Pemungutan Suara

Satu dari PPK yang turut menghadiri simulasi, Suroto menjadikan simulasi ini sebagai pemantapan materi sebelum menyampaikan bimtek pada KPPS.

Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul F
Simulasi pemungutan suara oleh PPK dan PPS se-kabupaten Bantul menjadi kesempatan untuk memantapkan tata cara pemungutan suara, Rabu (3/4/2019) siang di Balai Desa Trimulyo, Jetis. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Simulasi pemungutan suara kembali dilakukan di Kabupaten Bantul setelah sebelumnya dilakukan simulasi skala nasional 9 Maret lalu di Goa Selarong, Guwosari, Pajangan.

Simulasi pemungutan suara yang digelar pada Rabu (3/4/2019) di Balai Desa Trimulyo, Jetis ini berskala kabupaten yang diikuti oleh panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan panitia pemungutan suara (PPS) se-kabupaten Bantul.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul, Didik Joko Nugroho menekankan, simulasi ini menjadi kesempatan terakhir bagi PPK dan PPS untuk memahami tata cara pemungutan suara.

Karena, kata Didik, setelah simulasi ini PPK dan PPS wajib memberikan bimbingan teknis (bimtek) pada kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).

Baca: Lewat Lomba Kreasi Seni Flashmob Jingle Pemilu, KPU Bantul Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilihnya

"Kami meminta semuanya untuk terlibat, karena ini kesempatan terakhir mereka untuk belajar secara real. Karena setelah ini mereka bimtek teman-teman KPPS.

Dalam simulasi ini, sebanyak 225 PPS dan 85 PPK terlibat untuk menjadi petugas, pengawas, hingga pemilih.

Kata Didik, proses simulasi ini juga dilakukan sejak pukul tujuh pagi seperti yang akan dilakukan pada 17 April nanti.

"Dimulai dari jam tujuh, ada sumpah janji KPPS. Kemudian cek logistik, cek formulir, kemudian baru melayani pemilih. Ini yang harus dipahamkan ke teman-teman PPS ke KPPS," jelas Didik.

Baca: Simulasi Nasional Pemungutan dan Perhitungan Suara Pemilu 2019 Digelar di Goa Selarong

Ia juga menekankan soal pengisian formulir.

Hal ini menjadi konsekuensi tersendiri karena ada tiga klasifikasi pemilih yang harus diperhatikan betul.

"Sekarang kan ada tiga klasifikasi pemilih. Ada DPT (daftar pemilih tetap), DPTb (daftar pemilih tetap), dan DPK (daftar pemilih khusus), ini berkonsekuensi terhadap pengisian formulir," katanya.

"Ketika itu DPT, dia dapat lima surat suara, inputnya juga lima surat suara. Ketika DPTb nanti dilihat apakah pindah kabupaten atau pindah provinsi," terangnya. "Juga, diperhatikan tentang proses pengisian formulir atau sertifikat hasil," imbuhnya.

Didik berharap, setelah simulasi ini, PPK dan PPS dapat menyampaikan pada KPPS supaya dapat dipahami dan dapat dilaksanakan dengan baik.

KPPS, menurut Didik menjadi kunci utama kelancaran pemungutan suara.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved