Advertorial

PBTY Telah Usai, Capaian Tertinggi Masuk Wonderful Indonesia

Humas PBTY, Fantoni menjelaskan bahwa selama tujuh hari pelaksanaan animo masyarakat untuk datang sangat tinggi.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Ketua PBTY Tri Kirana Muslidatun dan Humas PBTY Fantoni saat menyampaikan keterangan pers terkait PBTY 2019, Rabu (20/2/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rangkaian acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) telah usai.

Humas PBTY, Fantoni menjelaskan bahwa selama tujuh hari pelaksanaan animo masyarakat untuk datang sangat tinggi.

Bahkan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Kalau tahun lalu ada sekitar 10ribu, tahun ini lebih banyak tapi jumlah pastinya belum dilaporkan ke kami. Asumsinya juga tahun lalu hujan turun 3 hari, sedangkan tahun ini hanya sehari. Itu pun saat karnaval dan pengunjung masih bertahan untuk menyaksikan karnaval," ungkapnya saat Jumpa Pers di Dinas Komunikasi dan Persandian Kota Yogyakarta, Rabu (20/2/2019).

Baca: PBTY 2019 Digelar Selama 7 Hari

Hujan deras yang turun pada Sabtu (16/2/2019), tidak hanya menyisakan cerita tentang lautan penonton yang rela menunggu rombongan karnaval yang berjalan di Malioboro tiba di Alun-Alun Utara, namun juga pengisi acara dan panitia yang juga memilih untuk berbasah-basahan dalam melaksanakan tugasnya.

"Konsekuen untuk terus memastikan acara berlangsung dengan baik. Termasuk MC yang juga selama 4 jam berdiri dan menggunakan payung di tengah hujan deras," tuturnya.

Hujan tersebut, lanjutnya, juga membawa berkah bagi pada pedagang dadakan, khususnya pedagang jas hujan maupun alas duduk yang seketika laris diburu warga yang tetap ingin menyaksikan atraksi peserta karnaval di tengah sergapan hujan.

Baca: Diapresiasi Kemenpar RI, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Dapat Dorong Pariwisata

Selain karnaval, stand kuliner yang memenuhi Ketandan juga menjadi jujugan warga serta wisatawan.

Fantoni berusaha meluruskan isu yang menuding panitia mencari untuk atas stand kuliner yang disewakan.

Terdapat sekitar 142 stand, dan masing-masing stand disewakan dengan harga yang beragam mulai Rp 1,5juta hingga Rp 5juta.

"Ini kami meluruskan sewa stand bukan cari untung tapi selama satu minggu penuh stand mendapatkan aliran listrik per tenda, bayar sewa tenda, ada keamanan dan beberapa stand yang biasanya digunakan sebagai tempat parkir, kita harus mengganti pendapatan mereka setiap hari," ungkapnya.

Selanjutnya, Ketua PBTY Tri Kirana Muslidatun menjelaskan bahwa hujan maupun tidak hujan, Ketandan pada saat PBTY penuh setiap hari.

"Meski hujan lebat tetap berlangsung dan penduduk menunggu sampe akhir," bebernya.

Baca: Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XIV 2019 Dibuka, Sajikan Ratusan Kuliner dan Festival Budaya

Wanita yang akrab disapa Ana Haryadi Suyuti tersebut mengatakan, dirinya didaulat sebagai Ketua PBTY sejak tahun 2007-2019.

Ia mengatakan kedekatannya dengan warga Tionghoa di Yogyakarta sudah dimulai jauh sebelum adanya PBTY, yakni pada 1996 silam.

"PBTY dimulai tahun 2006. Saat itu penyelenggaraan hanya semalam dan stand kuliner hanya ada lima. Lalu saat Pak Haryadi menjadi Wakil Wali Kota Yogyakarta pada 2017, teman-teman (warga Tionghoa) meminta saya jadi ketua. Akhirnya dari sana kami bekerja keras bersama-sama membesarkan PBTY," urainya.

Ia menjelaskan, seluruh panitia yang bekerja dalam PBTY tidak dibayar sepeserpun.

Bahkan mereka berupaya mencari sponsor hingga ada banyak yang terkumpul dan menjadikan perhelatan tersebut semakin besar hingga seluruh Ketandan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan PBTY.

"Jalan PBTY tahun ke-11, kami menghadap Sultan (Gubernur DIY) dan PBTY tahun 12-14 diminta sepekan. Itu karena makanan jam 8 sudah habis-habisan artinya banyak pengunjung yang datang," tuturnya.

Ia menambahkan, atas perintah Ngarsa Dalem atau panggilan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan warga Tionghoa, dirinya masih didaulat untuk memimpin berlangsungnya PBTY.

Ia pun mrngucapkan banyak terimakasih terhadap seluruh pihak yang telah mendukung menyukseskan PBTY.

"Termasuk Pemkot dan Pemda yang membantu dari segala segi. Ini perhelatan antara pemberdayaan masyarakat baik Tionghoa, Yogya, dan Nusantara lalu kolaborasi Pemerintah Kota dan Provinsi serta pengusaha," ucapnya.

Baca: Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2019 Resmi Dibuka

Ana mengatakan, capaian penting lain dalam PBTY adalah masuknya PBTY dalam Wonderful Indonesia yang merupakan promosi wisata berskala Internasional.

"Tahun ini Pemerintah Pusat menyatakan PBTY masuk dalam Wonderful Indonesian. Tahun depan kita diminta presentasi di depan Dubes agar semua lomba yang diselenggarakan masuk ke event internasional. Saatnya mengangkat pariwisata Yogya di mata internasional," tandasnya.

Tak lupa, Ana juga menyampaikan terimakasih dan juga permintaan maaf terhadap warga karena selama berlangsungnya PBTY mengganggu aktivitas perekonomian warga sekitar lokasi, khususnya Ketandan.

"Ketandan tutup tapi kami percaya ini merupakan bukti bahwa masyarakat Tionghoa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya," ujarnya.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menjelaskan bahwa hidup berdampingan dengan berbagai suku dan budaya sudah menjadi fitrah Kota Yogyakarta.

Tidak hanya hidup bersama, tapi seluruh elemen tersebut mampu menunjukkan toleransi yang tinggi sehingga menjaga citra Kota Yogyakarta berhati nyaman.

"Harmoni dan toleransi di Kota Yogyakarta merupakan hal yang tidak perlu diperjuangkan karena itu sudah ada sejak dulu. Maka yang harus dilakukan adalah menjaganya. Pemkot di sini hadir untuk mengawal agar semua bisa berjalan dengan semestinya," ucapnya.

Baca: PBTY XIII Tampilkan Spot Selfie Baru Imlek Light Festival

Haryadi menjelaskan, dibandingkan Medan, Singkawang, dan Surabaya, populasi warga Tionghoa di Kota Yogyakarta tidak seberapa.

Namun mereka bisa tetap mendapatkan ruang untuk menunjukkan kebudayaan yang mereka warisi turun temurun dari nenek moyangnya dengan durasi waktu pelaksanaan terpanjang se-Indonesia bahkan sedunia.

"Pemkot memberikan keleluasaan bagi warga Tionghoa untuk bisa menampilkan budaya mereka, dalam hal ini selama sepekan penuh. Terlihat antusias warga yang datang juga tidak hanya pengunjung Tionghoa tapi warga secara umum. Ini memperlihatkan PBTY bukan hanya hajat Tionghoa saja tapi perayaan bagi seluruh warga," tandasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA
    Komentar

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved