Kulon Progo
Menelusuri Jejak Etnis Tionghoa di Kulon Progo
Jejak komunitas warga Tionghoa di Kulon Progo seolah hampir tak tampak.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
Kebanyakan ahli waris keluarga Tionghoa itu berada di luar daerah, seperti Yogya, Klaten, Jakarta, Surabaya, dan lainnya.
Pada persiapan prosesi pemakaman, suaminya yang bakal bekerja untuk menggali liang bersama sejumlah tenaga bayaran dari warga setempat.
Liangnya tak hanya berupa tanah liat melainkan langsung dibikin dinding semen untuk selanjutnya peti jenazah dimasukkan ke dalamnya, dikubur dengan pasir dan bagian atasnya kembali dicor.
Adapun prosesi pemakaman biasanya ditangani langsung oleh pihak keluarga jenazah.
"Sekarang banyak yang memilih untuk mengkremasi keluarganya dan dilarung ke laut sehingga tidak dimakamkan di sini. Yang di sini kebanyakan hanya yang sudah tua-tua saja," kata Samiyem.
Samiyem mengaku tak hapal berapa jumlah liang makam yang ada di situ karena ia tak punya catatan khusus dan hanya menerima informasi secara lisan dari pendahulunya.
Pun makam itu menurutnya sudah ada sejak zaman kolonial.
Baca: Cerita Penjaga Kuburan Kuno Tionghoa Kulon Progo Yogyakarta, Catatan Peradaban di Bumi Menoreh
Ia memastikan ada sedikitnya sekitar seratus liang terdapat di makam itu dan nisan tertua ada di deretan terbawah pada lahan perbukitan itu meski tak tahu pasti angka tahunnya.
Kebanyakan nisan di makam itu memang menggunakan huruf cina dalam tulisannya.
Pada kelompok nisan tertua, terdapat satu nisan yang bertarikh 2 Mei 1936.
Hal itu kiranya selaras dengan sejarah kekuasaan kerajaan di Yogyakarta.
Wilayah makam itu dulunya berada di bawah penguasaan Kadipaten Pakualaman dalam teritori Kabupaten Adikarta dengan nama desanya Graulan.
Pada 1951. Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulon Progo (di bawah kasultanan Yogyakarta) bersatu menjadi Kabupaten Kulon Progo seperti dikenal saat ini.
Kepala Desa Giripeni, Priyanti mengatakan pihaknya menyimpan peta bertarikh 1938 yang juga memuat adanya areal permakaman itu.
Baca: Meriahkan Imlek 2019 Jogja Bay Tampilkan Pertunjukan Barongsari vs Bajak Laut
Luasan tanahnya sekitar 1,2 hektare dan berstatus tanah putih atau tanah negeri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/menelusuri-jejak-etnis-tionghoa-di-kulon-progo.jpg)