Mengenal Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus: Pengusaha Kaya yang Rendah Hati dari Pasar Kliwon
Berpusat di Masjid Riyadh di selatan Keraton Solo, ribuan orang datang dari berbagai kota untuk menghadiri khaul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
TRIBUNJOGJA.COM - Bila Anda berkunjung ke Solo pada akhir Desember ini, Anda akan menyaksikan ramainya orang di sekitar Jalan Gurawan, Pasar Kliwon.
Berpusat di Masjid Riyadh, yang berada di selatan Keraton Solo itu, ribuan orang datang dari berbagai kota, guna menghadiri peringatan wafatnya (khaul) Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Habib Ali adalah ulama kenamaan asal Hadhramaut, Yaman, yang menulis kitab maulid Nabi SAW berjudul Simtud-Dhirar.
Tak jauh dari situ, dahulu bermukim Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus, yang namanya dikenal luas di Solo.
Banyak tamu datang ke rumahnya setiap hari, pagi sampai malam. Mereka selalu dijamu makan minum; tamu dari luar kota sering menginap di kediamannya, seberang RS Kustati, di kota batik itu.
Habib Muhammad Alaydrus sengaja membangun semacam paviliun kecil di bagian depan rumahnya,lengkap dengan kamar mandi, yang khusus diperuntukkan bagi para tetamu yang menginap.
Kediamannya berlokasi di Jalan Kapten Mulyadi, seberang agak ke selatan RS Kustati.
Sekitar 300 meter ke utara dari rumah Muhammad Alaydrus ada Masjid Assegaf, tempat da’i kondang (dan penyanyi religi) Habib Syech AA dulu belajar mengaji saat ia kecil dipimpin ayahnya (yang menjadi imam di masjid itu), Habib Abdulkadir bin Abdulrahman (AA) Assegaf.
Pada masa-masa seperti sekarang ini rumah Muhammad Alaydrus nyaris tiada pernah kosong dari tamu yang hendak menghadiri acara khaul Habib Ali Al-Habsyi itu.
Baik saat ada khaul atau tidak, biasanya Muhammad Alaydrus sendiri secara rajin melayani para tetamu saat makan siang, makan malam, atau kadang ketika ngopi ‘majlas‘ (duduk-duduk) di sore hari, sambil membaca kitab-kitab agama bersama.
Selalu mengenakan sarung, pengusaha kaya dengan belasan anak itu tampil sangat bersahaja. Sehingga sepintas orang yang belum mengenalnya tidak akan menyangka bahwa Muhammad Alaydrus sebenarnya orang kaya.
Bahkan, penduduk di kampung Pasar Kliwon Solo nyaris tidak ada yang tidak tahu bahwa pemilik pabrik tekstil itu sangat rendah hati dengan sikapnya yang tawadhu’ (rendah hati).
Cerita Penerima Beras
Suatu ketika seorang miskin, sebutlah namanya Pak De, datang meminta bantuan kepadanya. Saat itu sedang banyak tamu di rumahnya.
Beliau menolak memberi Pak De. Sehingga Pak De uring-uringan, mengumpat Muhammad Alaydrus. Kepada banyak orang ia menjelek-jelekkan Muhammad sebagai “bachil, pelit,” dan berbagai sumpah serapah lain.