Sejarah Jawa Kuna

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna. Mulai dari Lingga Hingga Yoni.

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Batu-batu kuna terdiri yoni lapik dan blk batu bertakik dalam pondasi sumur ini ada di pekarangan keluarga keturunan Mbah Lurah Ngrundul di Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Diduga di pekarangan ini dulunya terdapat bangunan bercorak Siwa dalam ukuran cukup besar. 

TRIBUNJOGJA.COM - Penelusuran temuan lingga bertulis di Kecamatan Kebonarum, Klaten, membawa perjalanan ke sebuah pekarangan di Dusun Ngrundul, Desa Ngrundul di kecamatan yang sama.

Pekarangan itu dulu dimiliki Mbah Lurah Desa Ngrundul, jauh sebelum Indonesia merdeka. Bu Menuk, orang yang sekarang menempati rumah tua itu mengatakan, mbah buyutnya yang bertugas sebagai Lurah bernama Wirodiharjo, asal Bareng, Klaten kota.

Di pekarangan rumah tua ini, terutama di halaman depan, terdapat sejumlah benda kuna. Antara lain dorpel (bagian atas pintu batu), yoni lapik, lingga semu polos, dan sebuah lingga semu berinskripsi pendek yang sudah aus.

Sedangkan di sumur tua di halaman samping rumah, begitu melongok pondasinya, ternyata menggunakan blok-blok besar batu candi yang ada takikannya. Sangat jelas blok batu itu bukan batu biasa, dan lebih kuat ke blok batu candi/bangunan.

Baca: Lingga Bertulis Ini Usianya 11 Abad, Puluhan Tahun Sang Pemilik Tak Tahu Nilai Sejarahnya

"Saya tidak tahu kapan itu dibuat, sejak kecil sumur itu sudah ada. Mungkin ya sejak zaman simbah buyut atau mbah canggah saya," kata Bu Menuk kepada Tribunjogja.com, Senin (10/12/2018).

Namun ingatan Bu Menuk memberi gambaran, blok-blok batu itu kemungkinan berasal dari pekarangan depan rumah yang ia tempati sekarang. Dulu katanya juga ada bangunan tua, kemudian dibongkar. Sisa bata besarnya masih ada sedikit," lanjutnya.

Di bawah bekas bangunan tua yang sudah dibongkar itulah kemungkinan ada bangunan lebih tua lagi. "Mungkin masih terpendam dalam tanah. Persisnya di mana, ya kami tidak tahu lagi," ujar Bu Menuk.

Apakah dua lingga semu di halaman rumah Bu Menuk ini ada kaitan dengan lingga bertulis di rumah Supriyono, Dusun Kauman, yang berlokasi tak jauh di selatan Ngrundul, masih harus diteliti.

Secara penampakan, dua lingga semu di halaman rumah Bu Menuk berbeda dari segi ukuran. Keduanya lebih kecil dan lingga yang ada inskripsi pendeknya cukup aus. Lingga bertulis pendek ini tergeletak begitu saja di tritisan rumah Bu Menuk, di dekat kandang ayam.

Batu-batu kuna terdiri yoni lapik dan blk batu bertakik dalam pondasi sumur ini ada di pekarangan keluarga keturunan Mbah Lurah Ngrundul di Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Diduga di pekarangan ini dulunya terdapat bangunan bercorak Siwa dalam ukuran cukup besar.
Batu-batu kuna terdiri yoni lapik dan blk batu bertakik dalam pondasi sumur ini ada di pekarangan keluarga keturunan Mbah Lurah Ngrundul di Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Diduga di pekarangan ini dulunya terdapat bangunan bercorak Siwa dalam ukuran cukup besar. (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Deutz Yunianta, putra menantu Bu Menuk, mengaku hanya belakangan ini saja tahu batu-batu di pekarangan rumah mertuanya itu punya nilai sejarah. Sebelumnya, keluarganya pun tidak begitu paham, sehingga telantar begitu saja di halaman rumahnya.

Halaman
123
Penulis: xna
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved