Sejarah Jawa Kuna

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna. Mulai dari Lingga Hingga Yoni.

Pekarangan Mbah Lurah Ngrundul Ini Penuh Artefak dari Masa Mataram Kuna
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Batu-batu kuna terdiri yoni lapik dan blk batu bertakik dalam pondasi sumur ini ada di pekarangan keluarga keturunan Mbah Lurah Ngrundul di Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Diduga di pekarangan ini dulunya terdapat bangunan bercorak Siwa dalam ukuran cukup besar. 

Namun, Deutz mengungkap sebuah cerita pendek yang agak ghaib. "Boleh percaya atau tidak sih, tapi ini cerita nyata yang dialami bulik saya dulu," kata Deutz.

Ceritanya, Gereja Katholik Maria Asumta Klaten suatu saat dulu akan membuat semacam gua Maria di komplek gereja. Karena itu membutuhkan batu-batu dan relik untuk hiasan.

Bulik Deutz itu menawarkan sebuah batu berbentuk aneh di pekarangan rumah keluarganya. Akhirnya batu berornamen itu dibawa ke gereja dan dijadikan pelengkap gua yang dibikin.

Baca: 5 Fakta Unik yang Terselip di Tengah Kemegahan Candi Borobudur : Dari Relief Hingga Kisah Manohara

"Ternyata Bulik itu "diprimpeni", supaya batu itu dikembalikan ke tempat asalnya. Akhirnya memang batu itu dipulangkan lagi, kembali ke pekarangan ini hingga sekarang tak pernah ada yang mengutak-atik," beber Deutz.

Batu itulah yang dikenal dengan yoni lapik. Bentuknya yoni yang ada ceratnya, namun lubang di atas yoni berbentuk bulat. Biasanya yoni seperti ini untuk lapik atau dudukan arca.

Wilayah di Ngrundul, Kebonarum ini menurut dua pegiat komunitas sejarah kuna Klaten, Yohanes Sudaryanto dan Harry Wangsa Purana, cukup kaya peninggalan artefak sejarah dari masa Jawa Kuna.

Bahkan jika berdasar petunjuk yang sudah muncul ke permukaan, tinggalan artefak kuna itu membentang dari daerah Ngupit hingga Puluhwatu, Karangnongko, berlanjut ke utara dan timur hingga daerah Boyolali.

"Nama Puluhwatu (Puluwatu) sudah disebut di masa Rakai Pikatan, dan dicantumkan di salah satu candi perwara di komplek Candi Plaosan Lor," kata Yoan, panggilan akrab pria asal Jagalan, Karangnongko ini.

Inskripsi pendek di salah satu candi perwara di baris terdalam bagian utara dari candi induk menyebutkan, "anumoda sang pulu watu pu para".

Baca: BERITA FOTO : Temuan Arca The Lost Ganesha Raksasa di Sambirejo Prambanan

Artinya, bangunan (candi) perwara itu persembahan (pemimpin) Pulu Watu (Puluhwatu) bernama Pu Para. Pulu Watu yang dimaksud diyakini Puluhwatu, yang sentrumnya sekarang adalah Pasar Puluhwatu di Karangnongko.

Halaman
123
Penulis: xna
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved