Yogyakarta

Tekan Radikalisme dan Intoleransi Lewat Budaya dan Falsafah Jawa

Sebab itu, penguatan terhadap budaya dan filosofi jawa yang ada dalam aksara jawa tentu sangat penting dilakukan.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
Dok Dinsos DIY
Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi MM 

Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seiring perkembangan zaman, budaya Jawa perlahan mulai mengalami degradasi dan kemunduran.

Padahal, sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa dikenal memiliki kebudayaan adiluhung.

Yang mana, jika diterapkan secara benar, budaya dan falsafah Jawa sangat efektif untuk dapat menekan kasus-kasus radikalisme dan intoleransi.

Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi MM mengatakan, falsafah dan budaya Jawa sangat kental dengan ajaran saling menghormati, menghargai dan kebersamaan. Atau istilah yang dibangun adalah "sithik eding" dan "tepa selira".

Baca: Polda DIY: Radikalisme Ada di Daerah dengan Toleransi Rendah

"Jika falsafah dan budaya Jawa ini digunakan, kasus-kasus radikalisasi dan juga intoleransi tidak akan terjadi. Karena ajaran Jawa sangat kental dengan saling menghormati, menghargai dan kebersamaan," terang Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi, Jumat (30/11/2018) kemarin.

Untung berpendapat berbagai upaya dalam melakukan sosialisasi pemahaman kembali falsafah budaya Jawa bahkan penggunaan aksara jawa sangat penting dilakukan.

Sebagai bentuk dari sebuah restorasi sosial yang memiliki tujuan untuk bangga dengan kebudayaan dan falsafah jawa yang dimiliki.

Menurutnya, jumlah anak muda yang sudah tidak lagi mengenal aksara Jawa semakin bertambah banyak.

”Sehingga perlu ada upaya menjadikan warga DIY bangga dengan penggunakan aksara jawa," terang dia.

Baca: Perempuan Cantik Ini Belajar Hidup dari Falsafah Jawa

Oleh sebab itu, menurut dia, pemahaman pada falsafah dan budaya Jawa bagi kalangan anak-anak muda merupakan hal yang wajib dilakukan. Demi tetap mempertahankan identitas warga Yogyakarta.

Hingga saat ini, kata Untung, aksara jawa yang kaya makna filosofis belum maksimal dikembalikan sebagai kebanggaan daerah.

"Untuk itu diperlukan upaya keras untuk mengembalikannya melalui resosialisasi atau sosialisasi ulang aksara jawa," tutur dia.

Demi mewujudkan konsep restorasi sosial aksara Jawa, Dinas Sosial DIY memiliki program Gerakan Bangga Penggunaan aksara Jawa atau "Gerbang Praja".

Gerbang Praja ini bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat terutama kaum muda supaya bangga dan mau memahami kembali aksara Jawa.

Baca: Luruskan Penggunaan Bahasa Jawa, Pemkab Bantul Gelar Seminar Budaya Jawa

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved