Yogyakarta
Tekan Radikalisme dan Intoleransi Lewat Budaya dan Falsafah Jawa
Sebab itu, penguatan terhadap budaya dan filosofi jawa yang ada dalam aksara jawa tentu sangat penting dilakukan.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
Tak ketinggalan, sebagai pilot projects dari program ini, Dinas Sosial DIY mengaku telah menyiapkan beberapa titik kecamatan untuk dilakukan sosialisasi.
Tahun 2018 telah ada 18 titik kecamatan yang dilakukan sosialisasi.
Ditargetkan sampai 2019 mendatang, ada sebanyak 60 kecamatan di DIY berhasil dilakukan sosialisasi mengenai kecintaan budaya dan aksara Jawa.
Adapun sosialisasi Gerbang Praja, dikemas dalam bentuk sarasehan. Menghadirkan tokoh masyarakat, ahli filosofi Jawa, pengamat serta pendidik.
"Untuk Kabupaten Bantul ada tiga kecamatan yang sudah dilakukan sosialisasi. Di antaranya Kecamatan Imogiri, Sanden dan Kretek," katanya.
Sementara itu, penggiat aksara jawa dari komunitas Jogja Holic Joko Elisanto mengungkapkan, DIY yang merupakan miniatur dari negara Indonesia memerlukan penguatan entitas budaya.
Sehingga tidak kehilangan ruh kedaerahannya.
Sebab itu, penguatan terhadap budaya dan filosofi jawa yang ada dalam aksara jawa tentu sangat penting dilakukan.
Diharapkan para tokoh-tokoh desa bisa disiapkan menjadi punggawa atau pemimpin dalam upaya bangga dengan aksara jawa.
"Karena Banyak hal yang bisa dipetik dari filosofi Jawa. Mulai dari kegotongroyongan, kebersamaan hingga toleransi,” terang dia.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kepala-dinas-sosial-diy-drs-untung-sukaryadi-mm.jpg)