Hari Pahlawan - Inggris yang Berperang di Surabaya, Kenapa Bukan Belanda?
Pihak Inggris tak terima Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby terbunuh dalam tragedi dan memberikan ultimatum kepada Indonesia
TRIBUNJOGJA.COM - Pada akhir Oktober 1945, pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 mencoba melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia.
Saat itu, senjata tentara Jepang juga sudah dikuasai rakyat Indonesia, sehingga ini menimbulkan perlawanan.
Baca: Hari Pahlawan - Saat Laskar Hizbullah, Sabilillah, dan Tionghoa Bersatu di Perang Surabaya
Di Surabaya misalnya, terjadilah pertempuran besar yang bahkan menyebabkan tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby.
Tewasnya perwira muda Inggris itu menimbulkan kemarahan Inggris, yang kemudian mendatangkan pasukan India Divisi ke-5.
Pihak Inggris tak terima jenderalnya terbunuh dalam tragedi tersebut dan memberikan ultimatum kepada warga Indonesia.
Imbasnya, terjadilah pertempuran hingga lebih dari tiga minggu antara pihak Inggris dengan warga Surabaya.

Sebelumnya, pihak Belanda sendiri banyak mengecam tindakan Inggris. Mereka beranggapan bahwa Inggris tak usah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjamin kembalinya pemerintahan Belanda di Indonesia.
Sampai saat ini, masih ada segelintir orang Belanda yang menyalahkan Inggris atas lepasnya bekas negara jajahannya yang kaya tersebut.
Kenapa Inggris Terlibat?
Selama Perang Dunia II, Inggris memiliki pandangan bahwa negara-negara Eropa masih memiliki hak untuk kembali menguasai jajahannya, terutama di Asia dan Afrika.
Baca: Tragedi Surabaya Membara - Selain 3 Tewas, 20 Korban Mengalami Luka-luka
Dalam hal ini, pihak Sekutu merasa berhak atas jajahan yang sebelumnya dikuasai Jerman, Italia, atau Jepang.
Indonesia yang merupakan bekas jajahan Belanda pun dianggap bisa dikembalikan ke tangan Belanda setelah Perang Dunia II usai.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1047808/original/006609900_1446993195-20151108-mobil_brigjen_mallaby.jpg)
Buku Gelora Api Revolusi Sebuah Antologi Sejarah (1986) suntingan Colin Wild dan Peter Carey, menyebutkan, bahwa pada 1945, London dan Washington sepakat memberikan daerah Hindia Belanda (Indonesia) ke dalam jajaran wilayah komando Mountbatten yang menguasai beberapa wilayah di Asia Tenggara.
Sebenarnya, usul itu bukan berasal dari Inggris, namun dari Kepala Staf Amerika. Dengan rasa enggan, Inggris menyetujui usul itu dan memasukkan Indonesia dalam komando Mountbatten.
Baca: Mengenal Audrey Yu, Gadis Jenius yang Pernah Ditolak Semua Universitas di Indonesia
Tugas berat dipikul pihak Inggris yang harus memasukkan Indonesia dengan wilayahnya yang luas ke dalam jangkauannya.
Akibatnya, pasukan yang datang ke Indonesia diberangkatkan secara bertahap.