Hari Pahlawan - Saat Laskar Hizbullah, Sabilillah, dan Tionghoa Bersatu di Perang Surabaya

Pertempuran Surabaya ini menjadi salah satu pertempuran yang paling tidak ingin diingat oleh Pasukan Sekutu, terlebih Inggris.

Hari Pahlawan - Saat Laskar Hizbullah, Sabilillah, dan Tionghoa Bersatu di Perang Surabaya
IST
Laskar pejuang bersama TKR mempertahankan Kota Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945 

TRIBUNJOGJA.COM - Apa yang ada di benak kita saat ditanya tentang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya?

Sebagian besar mungkin akan menjawab penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (sekarang Majapahit), dan sebagian yang lain menjawab pidato Bung Tomo yang berapi-api.

Tapi kita lupa, bahwa pertempuran pertama pasca-proklamasi kemerdekaan RI ini bukan soal dua hal itu saja. Banyak cerita lain yang berkelindan di seputarnya.

Misalnya keterlibatan warga etnis Tionghoa dan cerita sebagian laskar yang belum mahir memegang senjata.

Baca: Hari Pahlawan - Inggris yang Berperang di Surabaya, Kenapa Bukan Belanda?

Berikut ini beberapa fakta seputar pertempuran heroik yang terjadi pada 10 November 1945 tersebut.

1. Perang Memalukan bagi Inggris

Pertempuran Surabaya ini menjadi salah satu pertempuran yang paling tidak ingin diingat oleh Pasukan Sekutu, terlebih Inggris.

Bagaimana tidak, di kota inilah pasukan elite Inggris dipaksa mengibarkan bendera putih dan meminta bantuan pimpinan musuh (Republik) untuk menghentikan peperangan.

2. Inggris Kehilangan 2 Jenderal

Dalam perang ini, Inggris tidak hanya kehilangan satu, tapi dua jenderal: Brigadier General Aubertin Walther Sother Mallaby dan Brigadier General Robert Guy Loder Symonds.

Halaman
123
Editor: iwanoganapriansyah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved