Yogyakarta

Gerakan NoStrawMovement KFC Indonesia Ditiru Luar Negeri

Gerakan NoStrawMovement KFC Indonesia Ditiru Luar Negeri. Sejumlah Negara Sudah Mulai Menerapkan Pengurangan Sedotan Air.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Hendra Yuniarto (kanan), General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia dan Amrullah Rosadi (kiri), Outsearch Specialist DCA saat mengkampanyekan NoStrawMovement, Sabtu (3/11/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebagai waralaba restoran, KFC Indonesia melakukan gerakan NoStrawMovement untuk mengurangi penggunaan dan menyadarkan masyarakat akan penggunaan sedotan plastik sekali pakai yang berbahaya bagi lingkungan khususnya biota laut.

Gerakan ini sudah dimulai sejak tahun 2017 lalu dan tahun ini mulai diterapkan di seluruh gerai yang ada di Indonesia sebanyak 630 gerai.

Rupanya, gerakan melindungi biota dan ekosistem laut dengan cara mengurangi penggunaan sedotan plastik di restoran menjadi daya tarik perusahaan lain untuk menerapkan hal yang sama.

Hendra Yuniarto, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia mengatakan, program kampanye tanpa sedotan plastik ini telah ditiru dan diaplikasikan di beberapa negara. Termasuk perusahaan luar negeri yang terinspirasi dari gerakan ini.

Baca: Jadi Gerakan Nasional, NoStrawMovement Ajak Konsumen Peduli Lingkungan

"Gerakan ini membuat KFC Indonesia menjadi percontohan untuk perusahaan serupa di Singapura, Hongkong dan China," katanya dalam sela diskusi bersama media di Yogyakarta, Sabtu (3/10/2018).

Gerakan ini mulai dilirik, ditiru dan diadopsi oleh perusahaan serupa di Singapura sejak percobaan di Indonesia pada pertengahan 2017 lalu.

Gerakan NoStrawMovement membuat gerai tak lagi menyediakan langsung sedotan plastik berukuran kecil dengan menghilangkan dispenser sedotan. Sedotan plastik hanya diberikan jika konsumen benar-benar membutuhkannya dan meminta langsung ke pelayan.

Hendra membeberkan, gerai cepat saji serupa di negara Singapura ini mulai menerapkan gerakan serupa per 20 Juni lalu pada 84 gerai di seluruh Singapura.

Bahkan, kala program ini diterapkan oleh KFC Indonesia di wilayah Jabodetabek pada akhir tahun 2017 lalu, ada salah satu perusahaan kopi dunia yang terinspirasi dan melakukan hal serupa.

"Ada juga satu korporasi dari penyedia kopi yang terinspirasi juga untuk menghentikan penggunaan sedotan secara global di seluruh gerai pada korporasinya," katanya.

Untuk di Indonesia sendiri, pihaknya mengakui perlu perhatian berbagai elemen dan stakeholder untuk mulai mengurangi penggunaan sedotan. Pihaknya mengaku tak dapat berjalan hanya sendirian.

Baca: Atasi Sampah Plastik, KFC Indonesia Kurangi Penggunaan Sedotan Plastik Sekali Pakai

Ia berharap solusi dari permasalahan sampah plastik laut tak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak namun juga pihak lainnya.

Terutama pemerintah dalam hal ini yang memiliki tanggung jawab dan wewenang untuk memberikan regulasi serta aturan terkait lingkungan hidup.

"Stakeholder yang paling penting adalah Goverment yang menentukan kebijakan. Regulasi yang jelas dan mencakup keseluruhan pihak maka gerakan ini akan berjalan lebih mudah dan saling dukung," lanjutnya.

Melalui gerakan ini, pihaknya berharap tak hanya angka penggunaan sedotan plastik saja yang berkurang namun juga angka kesadaran masyarakat yang akan selalu naik dan meningkat.

"Kita akan puas jika angka kesadaran konsumen untuk mulai mengurangi penggunaan sedotan mulai naik. Itu yang menjadi tujuan gerakan ini, menyadarkan konsumen sehingga kebiasaan ini menjadi rutinitas dan gaya hidup. Selain itu kita juga akan puas jika angka yang diperoleh oleh teman-teman Divers Clean Action (DCA) dari sampah plastik laut terutama sedotan mulai menurun," pungkasnya. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved