Yogyakarta
Rampak Gedruk Buto, Tarian Simbol Kemarahan Raksasa
Tarian gedruk ini merupakan seni tari yang kisahnya diambil dari Ramayana, menceritakan tentang kemarahan buto.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Indonesia negara yang kaya keberagaman adat seni dan budaya.
Di tiap-tiap pelosok daerah memiliki keunikan dan identitas seni yang dimiliki.
Tak terkecuali di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Baca: Baca Puisi dan Dolanan Tradisional Anak, Upaya Lestarikan Seni dan Budaya
Di daerah ini berkembang dan terkenal di masyarakat adanya seni tari rampak gedruk buto.
Kesenian yang biasa disebut gedruk ini merupakan satu di antara babak dari kesenian Jathilan.
Tarian ini dimainkan oleh sekelompok orang memakai kostum dan topeng buto.
Permainannya sederhana dengan menghentak-hentakan kaki ke tanah.
Diiringi alunan musik tradisional, membuat kesenian ini istimewa.
Seorang pegiat seni rampak buto, Bongge mengatakan, tarian gedruk ini merupakan seni tari yang kisahnya diambil dari Ramayana, menceritakan tentang kemarahan buto.
"Dengan hentakan kaki, kemarahan buto itu diekspresikan dalam bentuk tari," kata Bongge pada Tribunjogja.com.
Menurutnya, tari gedruk ini satu rangkain dengan jathilan.
Bahkan musik pengiring yang digunakan pun sama.
"Ada gendang, bonang, saron, kempul, slompret dan ketipung," terangnya.
Adapun kostum dan aksesori yang dikenakan oleh penari terdiri dari krembyah-krembyah yang melekat pada pakaian sang Buto, selendang, hiasan uncal, buntal sejenis tameng di dada dan paling utama adalah topeng buto dan kerincing atau lonceng kecil yang dipasang di kaki.
Baca: Tari Tradisional Golong Gilig Praju Manggala Buka Peksiminas 2018