Pendidikan

CIMEDs UGM Sumbangkan Implan Penyambung Tulang untuk Korban Gempa Tsunami Palu

Bantuan ini diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan implan penyambung tulang untuk korban luka berat gempa tsunami di Palu dan Donggala.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Dekan Fakultas Teknik UGM menyerahkan 100 buah implan penyambung tulang ke perwakilan dokter RSUP Dr Sardjito untuk disumbangkan kepada korban yang menderita patah tulang di Palu dan Donggala. 

"70 persen kebanyakan adalah korban patah tulang, dan implan yang diberikan UGM ini menjadi pelengkap bantuan yang akan diberikan kepada saudara-saudara kita di sana yang membutuhkan," ujarnya.

Sementara RSUP Dr Sardjito sendiri sudah menyiapkan implan untuk penanganan 70 pasien patah tulang.

Mereka akan memeriksa setiap pasien di sana, apakah perlu dilakukan penanganan operasi atau hanya cukup di pasang gips.

Sedangkan jika dirasa kurang, Suyitno menimpali bahwa pihaknya akan menyiapkan lagi implan tambahan.

Termasuk tim peneliti CIMEDs saat ini juga sedang mempersiapkan kaki palsu hasil pengembangan dari grup riset untuk disumbangkan korban yang harus diamputasi.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof Ir Nizam mengatakan gempa yang terjadi di Lombok dan Palu menggugah setiap orang memberikan bantuan, termasuk institusi pendidikan.

Sebelumnya di bencana Lombok, pihaknya juga sudah menerjunkan bantuan ke sana.

"Semua departemen aktif membantu kebencanaam sesuai spesifikasinya. Ada yang asesmen bangunan dan arsitektur, air bersih sanitasi, hingga pemetaan dan pendataan cakupan bencana. Ini bentuk kepedulian yang bisa kita lakukan," ungkapnya.

Dan kali ini, melalui teman-teman teknik mesin bekerjasama dengan kedokteran yang tergabung dalam CIMEDs, telah menyumbangkan hasil penilitian mereka berupa implan penyambung tulang yang diperlukan korban terdampak gempa yang menderita patah tulang.

Tak hanya itu saja, mahasiswanya juga tengah menggalang dana dan volunteer, yang akan memberikan asesmen forensik bangunan di Palu dan Donggala, terutama bangunan untuk perawatan medis dan fasilitas umum lainya seperti sekolah.

"Bagi mahasiswa UGM yang memiliki keluarga yang terdampak gempa, kami juga mengizinkan mereka untuk pulang dan menengok kelaurga mereka. Kami beri kesempatan menjenguk keluarga, bisa sampai dua minggu," ujarnya.

"Selain itu, kami juga membuka pintu bagi mahasiswa Universitas Tadulako yang bangunan kampusnya roboh karena gempa untuk berkuliah di UGM. Kami akan koordinasikan lebih lanjut dengan pihak kampus di sana mengenai rencana ini," tutupnya.(*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved