Jawa

Batu Kecubung Ini Benar-benar Jumbo, Bobotnya Mencapai 8 Kuintal

Sejak lama batu ini dipergunakan orang Yunani kuno sebagai jimat agar terhindar dari racun dan mabuk berat akibat minuman beralkohol tinggi.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumargo
Batu kecubung yang dipamerkan di Museum Geologi Bandung. 

Terkait bongkahan batu kecubung Museum Geologi, menurut Dede Mulyana, koleksi ini memang paling memantik decak kagum pengunjung.

Selain bobotnya yang istimewa, keindahan batu-batu hexagonal yang masih menempel di bongkahan batu lain ini juga luar biasa.

"Sengaja ditampilkan terbuka begitu biar pengunjung bisa menyentuh dan merasakan langsung keindahan batu Amethyst dari Solok ini," katanya.

Apakah tidak rawan pencurian?

"Ya tentu saja, tapi siapa kuat angkat bongkahan delapan kuintal ini coba? Ada yang coba mempreteli, tapi sulit karena batu kecubung itu menempel kuat dan sangat keras," lanjutnya.

Tentu saja selain bobot yang rasanya mustahil bongkahan itu digondol maling, pengelola museum menempatkan kamera pengawas yang menyorot langsung ke tengah ruang pamer.

Semua gerak-gerik pengunjung terekam jelas dan bisa dipantau langsung.

Jadi, jangan bertindak aneh-aneh di ruang pamer batu kecubung ini.

Jika hanya foto-foto, cukup leluasa boleh dilakukan.

Museum Geologi di Bandung ini ada sejak 16 Mei 1929, saat itu diinisiasi para geolog dari negeri Belanda.

Bandung pada masa itu memang jadi pusat jawatan geologi, dan bertahan hingga saat ini.

Gedung museumnya berlokasi di Jalan Diponegoro No 57, Cihaur Geulis, Cibeunying Kaler, Kota Bandung.

Tidak jauh dari Gedung Sate, pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, di sebelah timur lapangan Gasibu.

Kelahiran Museum Geologi berawal dari aktivitas kolonial Belanda yang mengeksplorasi tambang mineral di Nusantara. Belanda pada 1850 membentuk Dienst van het Mijnwezen,  semacam badan khusus menangani kegeologian.

Pada 1922, lembaga ini berganti menjadi Dienst van den Mijnbouw. Tugasnya melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.

Di Hindia Belanda, lembaga ini membangun pusat aktifitas di Rembrandt Straat, Kota Bandung, yang kini jadi Jalan Diponegoro.

Gedung tersebut awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.

Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir  Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden.

Pembangunannya dimulai pada pertengahan 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.

Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 Mei 1929.

Baca: Baru Tiba Hari Ini, MiG-17 Jadi Koleksi Terbaru Museum Dirgantara Yogyakarta

Museum Geologi Bandung kini menjadi satu-satunya museum yang secara lengkap menampilkan hal ihwal tentang kegeologian, kegunungapian, dan termasuk sebagian kecil sejarah purba.

Sebuah replika fosil gajah purba dari Blora, secara menyolok mata ditempatkan di lobi gedung museum ini.

Fosil gajah purba Blora yang 85 persen masih dan bisa direkonstruksi, ditemukan dan diekskavasi oleh tim peneliti Badan Geologi beberapa tahun lalu.

Informasi terakhir dari perjalanan singkat ini, berapa sih tiket masuk museum?

Hanya Rp 3.000 saja per orang, dan pengunjung bisa berpuas-puas menyaksikan betapa istimewanya bumi yang kita tinggali dan alam semesta ini.

Yuk, kunjungi museum ini! (Tribunjogja.com/xna)
 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved