Pendidikan
Mahasiswa UGM Teliti Pergeseran Penggunaan Bahasa Rejang
Seiring berkembangnya zaman pada era globalisasi seperti sekarang, terdapat pergeseran terhadap penggunaan Bahasa Rejang.
Bahkan dari survei terhadap siswa sebanyak 30 persen siswa menolak jika Bahasa Rejang diajarkan di sekolah dan 36 persen yang bersikap netral.
“Berdasarkan kuesioner tentang sikap bahasa, 30 persen menolak dan 36 persen tidak menolak atau pun menerima,” katanya.
Ia berkesimpulan berdasarkan dari pola penggunaan dan sikap bahasa, bahasa rejang masuk dalam kategori terjadinya pergeseran bahasa karena digunakan sebagai bahasa lisan sesama generasi namun hanya sedikit orangtua yang mentrasnmisikan bahasa tersebut ke anak-anaknya.
“Kondisi dini menandakan terjadi titik awal terjadinya pergeseran bahasa,” katanya.
Meski demikian, kata Putri, masyarakat tidak sadar bahwa bahasa daerah mereka tengah mengalami pergeseran.
Bahkan, banyak penduduk tidak mengetahui bahwa bahasa mereka memiliki aksara yang menjadi bagian dari 12 aksara daerah penting di Indonesia.
Baca: Mahasiswa UMY Ajukan Inovasi Baru untuk Media Tanam In Vitro
Oleh karena itu diperlukan atensi masyarakat dan pihak terkait agar terus melakukan upaya pemertahanan Bahasa Rejang baik secara lisan maupun tulisan.
Minimnya dokumentasi baik berupa video maupun tulisan mengenai bahasa Rejang membuat Putri dan tim membuat video informatif dengan judul “Mengupas Daya Hidup Bahasa Rejang dan Proses Revitalisasinya” yang diunggah lewat akun Youtube.
“Video dokumentasi informatif ini bukan hanya sekadar tulisan, masyarakat akan lebih semangat untuk terus melestarikan bahasa daerah,” tambah Dian Saputra Taher, anggota tim yang lain.
Selain dapat menambah kontribusi terhadap ilmu humaniora bidang studi etnolinguistik, hasil kajian mereka ini dapat menjadi pemantik adanya cara pemertahanan kebudayaan lokal yang lebih efektif sehingga bahasa daerah tetap lestari. (*)