Singgah di Masjid Bersejarah
Video Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Tempat Dipanegara Ngaji dan Susun Strategi Lawan Belanda
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Sebagai pusat syiar islam di tapal batas kerajaan, Masjid Pathok Negara Dongkelan saat ini masih berdiri gagah. Aktif digunakan sebagai pusat kemasyarakatan, sosial dan ibadah.
Matahari baru lengser dari angka dua belas, siang itu, ketika masyarakat Dongkelan, Kauman, Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul keluar dari serambi masjid usai menjalankan ibadah.
Masjid yang berada di Dongkelan ini merupakan satu di antara masjid Pathok Negara dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dalam catatan sejarah, masjid berusia 243 tahun ini pernah menjadi basis perjuangan rakyat melawan Belanda dalam perang Dipanegara tahun 1825 Masehi.
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V.
Diceritakan oleh Abdi Dalem Kemasjidan, R Muhammad Burhanudin, Masjid Pathok Negara Dongkelan didirikan pada tahun 1775 M oleh Keraton Ngayogyakarta, bersamaan ketika pembangunan serambi masjid gedhe Kauman.
"Pendirian masjid ini sebagai penghormatan dari keraton kepada Kyai Syihabuddin atas jasa beliau terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono I,” kata Burhanudin yang juga merupakan cicit dari Kyai Syihabuddin tersebut.
Menurutnya, pada pemerintahan HB I, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo yang tak lain adalah menantu dari HB I dibantu Belanda naik tahta menjadi Pangeran Merdiko dengan gelar RGPAA Mangkunegaran I pada 1757-1758 M.
Atas kenaikan tahta itulah, Sultan HB I merasa gundah, dan berambisi kuat untuk mengalahkan di medan laga, tetapi tanpa harus merasa membunuhnya. Disitulah, HB I meminta tolong kepada Kyai Syihabuddin.
Perang tanding
Dalam perang tanding antara Kyai Syihabuddin dan Sambernyowo, Kyai Syihabuddin unggul dan Pangeran Sambernyowo menyerah.
Namun setelah mengalahkan Sambernyowo, rupanya hadiah yang dijanjikan sebagai patih batal diberikan. Syihabuddin hanya diangkat sebagai penghulu kerajaan.
Tak memperoleh haknya, Kyai Syihabuddin merasa dongkol dan kemudian dikenal sebagai Kyai Dongkol atau dongkel yang akhirnya dikenal sebagai nama tempat ia tinggal yaitu kampung Dongkelan.
Kyai Syihabuddin oleh Sultan HB I kemudian diangkat menjadi pejabat Pathok Negara dan dibuatkan masjid di wilayah Dongkelan. Yang kemudian hari dikenal menjadi Masjid Pathok Negara Dongkelan.
"Kalau di zaman sekarang, Pejabat Pathok Negara itu seperti pejabat Pengadilan Agama. Dulu bekerjanya di pengadilan serambi atau dikenal sebagai Al Mahkamah Al Kabiroh, pengadilan yang ada di serambi masjid," ungkapnya.