Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Tempat Dipanegara Ngaji dan Susun Strategi Lawan Belanda

Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V.

Dalam perang tanding antara Kyai Syihabuddin dan Sambernyowo, Kyai Syihabuddin unggul dan Pangeran Sambernyowo menyerah.

Namun setelah mengalahkan Sambernyowo, rupanya hadiah yang dijanjikan sebagai patih batal diberikan. Syihabuddin hanya diangkat sebagai penghulu kerajaan.

Tak memperoleh haknya, Kyai Syihabuddin merasa dongkol dan kemudian dikenal sebagai Kyai Dongkol atau dongkel yang akhirnya dikenal sebagai nama tempat ia tinggal yaitu kampung Dongkelan.

Kyai Syihabuddin oleh Sultan HB I kemudian diangkat menjadi pejabat Pathok Negara dan dibuatkan masjid di wilayah Dongkelan. Yang kemudian hari dikenal menjadi Masjid Pathok Negara Dongkelan.

"Kalau di zaman sekarang, Pejabat Pathok Negara itu seperti pejabat Pengadilan Agama. Dulu bekerjanya di pengadilan serambi atau dikenal sebagai Al Mahkamah Al Kabiroh, pengadilan yang ada di serambi masjid," ungkapnya.

Bangunan masjid

Masjid Pathok Negara berdiri diatas tanah seluas 1000 meter persegi. Model bangunan utama berbentuk tajug selebar 10 x 10 meter. Bangun tajug ini mempertemukan empat titik mata penjuru angin menuju kepada satu titik keatas. Memiliki 7 pintu dan 9 jendela.

"Bangunan tajuk itu mengerucut keatas. Artinya menuju kepada Tuhan yang esa. Sementara 7 pintu itu artinya pithuduh (petunjuk) yang dibawa 9 walisongo," terang R. Burhanuddin.

Di depan bangunan utama, terdapat bangunan serambi masjid berlantai tegel kuning, seluas 7 x 14 meter. Posisi bangunan serambi ini lebih rendah dari bangunan utama.

Ada juga ruang pawestri yang berada di sebelah kanan dan kiri ruang utama. Masing masing berukuran 2.5 x 10 meter persegi. Selayaknya masjid-masjid lain, Masjid Pathok Negara Dongkelan ini juga dilengkapi dengan tempat wudhu. Lokasinya berada di sisi utara bangunan utama masjid.

Halaman
1234
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved