Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Pathok Negoro Dongkelan, Tempat Dipanegara Ngaji dan Susun Strategi Lawan Belanda

Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V.

Istimewanya, Masjid ini berbeda dengan masjid lainnya, tidak memiliki kubah di atasnya. Pada bagian tempat kubah diganti menjadi mustaka, berbentuk gada (senjata pemukulan pemungkas) yang terbuat dari plat besi. Di bagian bawahnya terdapat daun kluweh dan bunga gambir mekar.

"Gada itu simbol alif (huruf hijaiyyah), artinya jejeg, tanda ketauhidan. Daun kluweh itu linuwih, kenikmatan Tuhan yang luas tak terbatas. Sedangkan Bunga Gambir itu bermakna rahmat, mekar, agama islam menyebar sebagai Rahmatan lil alamin," terangnya.

Dibakar Belanda

Konon, Masjid Pathok Negara Dongkelan sebagai pusat peradaban dan penyebaran ilmu agama menjadi saksi, tempat dimana Raden Mas Mustahar atau kelak dikenal Pangeran Dipanegara menimba ilmu agama Islam.

Selanjutnya saat meletus perang Diponegoro 20 Juli 1825, masjid ini sempat menjadi basis kekuatan, dimana warga sekitar masjid ikut menjadi laskar Diponegoro.

"Warga Dongkelan sini ikut membantu perang Dipanegara. Waktu itu masjid (Pathok Negara Dongkelan) ini disamping sebagai tempat ibadah juga menjadi tempat rapat untuk menyusun strategi perang dalam menghadapi Belanda," cerita R Burhanuddin.

Awal mula perang Dipanegara meletus tahun 1825 M, pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V.

Pada masa perang ini juga, Masjid peninggalan Kyai Syihabuddin dibakar habis oleh tentara Belanda, ketika hendak menangkap Pangeran Dipanegara yang bersembunyi di Goa Selarong, Pajangan, Bantul.

"Pada masa perang, Masjid ini dibakar oleh Belanda, yang tersisa hanya umpak batunya saja. Kemudian oleh masyarakat, Masjid dibangun kembali hanya menggunakan bahan tradisional seadanya. Beratapkan ijuk, mustaka terbuat dari tanah liat, gerabah," urainya.

Kemudian pada pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, Masjid yang Sempat dibakar itu mulai dibangun kembali atas inisiatif dari KH Muhammad Imam, pejabat Pathok Negara keturunan kyai Syihabuddin bersamaan dengan pembangunan rumah joglo miliknya yang berada di sebelah timur laut masjid.

Halaman
1234
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved