Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Jami' Al Munawwir, Pusat Peribadatan dan Syiar Berbasis Pesantren

Video Masjid Jami' Al Munawwir, Pusat Peribadatan dan Syiar Berbasis Pesantren

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti

"Awalnya, sebelum membangun masjid, sepulang dari Makkah, tahun 1909, KH Moenawwir ini membuka sebuah pengajian agama di kampung Kauman, Yogyakarta. Tepatnya di belakang Alun-alun," tuturnya, Rabu (6/6).

Semakin hari, ternyata santri dan masyarakat yang mengikuti pengajian KH Moenawwir terus bertambah banyak.

Sehingga, lambat laun, rumah yang didiami tak mampu lagi menampung para jamaah.

Merasa tempatnya sudah tak mampu lagi menampung para jamaah pengajian, KH Moenawwir kemudian memutuskan untuk pindah ke kampung Krapyak Kulon yang berbarengan dengan pendirian sebuah masjid.

Bukan hanya mendirikan masjid, perpindahan KH Moenawwir ke Kampung Krapyak Kulon juga dibarengi dengan pembangunan areal pondok pesantren.

"Jadi sebagai sarat berdirinya sebuah pesantren itu ada lima. Pertama harus ada masjid, ada pondok, ada santri, ada pengasuh dan terakhir ada kajian kitab kuning," ungkapnya.

"Makanya ketika KH Moenawwir pindah ke sini, beliau membangun masjid dan pondok sebagai awal berdirinya pesantren Al Munawwir ini," imbuh dia.

Belajar Alquran

Pada awal berdirinya, Masjid dan pondok pesantren Al- Munawwir lebih menekankan kepada santrinya tentang pengajaran Alquran.

Pengajaran yang diterapkan baik secara bin-nadhar, membaca langsung, maupun bil ghoib, dengan cara hafalan.

Untuk melengkapi kurikulum pengajaran maka dikonsep juga pengajian kitab fiqih, tafsir maupun kitab - kitab klasik lainnya.

"Tetapi yang perlu diketahui. Pada awalnya, yang lebih ditekankan pada pendidikan di masjid dan pesantren ini adalah pendidikan Alquran. Sebab itu KH Moenawwir bergelar Syeikhul Muqri, maha guru Alquran," terang KH Mukhtarom.

Perjuangan syiar islam yang dilakukan oleh KH Moenawwir berlangsung sampai sebelum era kemerdekaan Indonesia. Tepat pada tahun 1942, beliau wafat.

Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh tiga orang yakni KH Abdullah Affandi, KH Abdul Qadir, keduanya merupakan keturunan langsung KH Moenawwir.

Dan satu lagi oleh KH Ali Ma'shum, menantu dari KH Moenawwir yang merupakan putra dari KH Ma'shum Lasem.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved