Internasional
Temuan di Luzon Ini Bisa Ubah Sejarah Manusia Purba di Asia
Sekitar 709.000 tahun yang lalu, seseorang atau sekelompok manusia membantai seekor badak di Pulau Luzon, Filipina.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti
Temuan terbesar dan nyaris paling lengkap adalah fosil badak purba yang dibantai. Tulangnya terpotong-potong dengan tanda dipotong pakai alat buatan.
Dengan tanda-tanda sejelas itu, meski belum ditemukan buktinya, hewan besar itu dibunuh dan dipotong-potong oleh manusia (purba) zaman itu.
Thomas Ingicco, profesor peneliti di Muséum National d'Histoire Naturelle, menyebut temuan Luzon ini bisa berdampak kompleks bagi ilmu pengetahuan.
"Pertama, ini sangat tua untuk memahami kehadiran hominin di pulau ini," kata Ingicco.
"Kedua, ini membuktikan kolonisasi sebuah pulau terisolasi di Filipina pada awal masa Pleistosen Tengah. Ini pastinya hominin sebelum manusia modern," imbuh Ingicco.
"Jejak pembantaian ini memberi tanda sangat mengejutkan," kata Ingicco lagi.
"Saya tahu hanya ada dua situs di dunia yang meninggalkan jejak pembantaian hewan oleh manusia waktu itu," lanjutnya.
"Yaitu situs Choukoutien di China dan satunya Ngebung di Kubah Sangiran, Indonesia," tandas Ingicco sembari menambahkan baru sedikit yang diketahui ilmuwan tentang kehidupan masa ini.
Penelitian menggemparkan di Gua Liangbua, Flores, NTT beberapa tahun lalu mengindikasikan hadirnya spesies baru di pulau yabg terisolasi itu.
Temuan itu berupa fosil rangka manusia mini, yang populer disebut Hobit dari Flores.
Pemeriksaan pertanggalan menunjukkan hominin purba itu berasal dari masa 700.000 tahun lalu.
Penelitian dilakukan tim University of Wollongong Centre for Archaeological Science, Australia dan Puslit Arkenas Indonesia.
Peneliti senior dari Universitas Wollongong, Gerrit van den Bergh, juga terlibat dalam penelitian di situs Kalinga, Luzon.
Dari dua kasus di Flores dan Luzon ini, para ahli kini memusatkan perhatian bagaimana kehidupan bisa bertahan di sebuah lokasi yang dikelilingi laut luas dan dalam.
Terutama bagaimana evolusi fisik terjadi pada hominin di kedua pulau tersebut, menjadikan mereka manusia-manusia berukuran kerdil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/temuan-di-luzon-ini-bisa-ubah-sejarah-manusia-purba-di-asia_20180503_120112.jpg)