Sleman
Lestarikan Dolanan Anak, Sanggar Sakura Libatkan Anak Berlatih Permainan Tradisional
Mengenai ide agar pertunjukan yang ditampilkannya, Sanggar Sakura mengambil permainan yang jarang dimainkan oleh peserta lainnya.
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
Meskipun baru duduk di kelas 3 SD, Haulia mengaku sangat ingin melestarikan dolanan-dolanan yang juga merupakan peninggalan luhur ini.
Dewi Liatianingrum, yang merupakan Koordinator dalam pementasan kali ini sekaligus Ketua Sanggar Sakura tempat Haura belajar, mengaku sengaja menggabungkan antara koreografer, musik dan permainan.
“Jadi ini memang dolanan anak tempo dulu, tapi kita kemas sedikit modern sesuai dengan permintaan dalam lomba. Kita baru terima undangan ini seminggu yang lalu, tapi Alhamdulillah anak-anak mampu untuk mementaskannya,” ungkapnya.
Mengenai kesulitan, Dewi mengaku sempat mengalaminya manakala anak-anak menghafalkan lagu yang memang jarang ketahui anak didiknya sebelumnya.
“Ada kesulitan, karena jaman sekarang kebanyakan anak pegangannya gadget. Jadi jarang dengar lagu-lagu dolanan. Kesulitan terberat saat anak-anak berlatih enggrang, awalnya mereka takut,” terangnya.
Karena anak-anak didiknya memiliki kemauan yang besar untuk bisa bermain enggrang, maka rasa takut yang dimiliki anak-anak didiknya perlahan mulai hilang.
Malahan ada diantara mereka yang malah ketagihan.
“Mereka ada kemauan, meskipun tidak semua bisa bermain. Disini kita gabungkan antara tari, lagu, permainan,” ungkapnya,
Mengenai ide agar pertunjukan yang ditampilkannya bisa menarik, Dewi mengaku selalu mengambil permainan yang memang jarang dimainkan oleh peserta lainnya.
“Kita alhamdulillah selama dua tahun berturut-turut selalu juara satu saat mewakili kecamatan. Kali ini materinya baru, anaknya juga semua baru. Jadi kita pakainya anak-anak yang usianya tidak lebih dari 12,” ungkapnya.
Dewi mengaku sangat prihatin saat ini banyak anak-anak yang lebih tertarik bermain gadget daripada bermain bersama teman-teman seusianya.
Dia berharap dolanan-dolanan anak ini bisa terus dilestarikan.
“Kita mencoba flashback ke belakang. Dolanan anak itu lebih menyenangkan daripada gadget. Sekarang banyak anak yang lebih suka main gadget. Padahal dolanan anak itu lebih kreatif, lebih guyub rukun, tidak egois seperti gadget,” terangnya.
Untuk melestarikan dolanan-dolanan anak, Dewi mengaku di sanggarnya juga disediakan alat-alat dolanan anak, seperti enggrang, dakon, lompat tali.
“Mereka biar tahu, jamannya saya ada permainan yang memang menarik. Tidak seperti sekarang yang hanya ngegame. Semoga pemerintah bisa sering mengadakan acara seperti ini sebagai bentuk pelestarian dolanan anak,” terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/estival-dolanan-anak-yang-diadakan-oleh-disbud-sleman_20180424_225413.jpg)