Sleman

Lestarikan Dolanan Anak, Sanggar Sakura Libatkan Anak Berlatih Permainan Tradisional

Mengenai ide agar pertunjukan yang ditampilkannya, Sanggar Sakura mengambil permainan yang jarang dimainkan oleh peserta lainnya.

Tayang:
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Haulia saat bermain dolanan anak di Festival Dolanan Anak yang diadakan oleh Disbud Sleman, Selasa (24/4) 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM – Pluk-Cempluk, lek dolanan yo ojo nesuan.

Mengko mundak ilang ayune.

Ayo dolanan bareng maneh.

Sambil berlarian kesana-kemari dan memainkan berbagai macam dolanan anak, Haura Aulia Sabira yang memainkan tokok Cempluk, bersama ketiga belas temannya terlihat sangat menikmati segala permainan yang dipentaskannya dalam Festival Dolanan Anak 2018 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

Haura merupakan peserta yang mewakili Kecamatan Mlati, dan baru berusia 8 tahun.

Namun, dia mampu menguasai segala permainan yang diperankannya dengan sangat luwes.

Untuk tampil dalam festival kali ini, gadis berkepang dua ini mengaku baru seminggu berlatih untuk pentas Dolanan Anak bersama teman-teman seusianya.

Namun, dia sudah mampu menguasai seluruh dolanan anak tradisional yang dibawakannya.

Mulai dari enggrang, jaranan, pitik-pitikan, lompat tali, maupun permainan lainnya.

Sambil terus berlari dan menari, dengan disisipi musik yang juga dibawakan teman-temannya, dengan guyonan dan tutur bahasa khas anak kecil, Haura dan kawan-kawannya sempat membuat penonton beberapa kali tertawa karena keluguannya.

“Saya senang bisa membawakan Dolanan Anak ini, tadi banyak yang dimainkan. Mamah dari kecil juga sudah memperkenalkan permainan ini ke aku,” terangnya.

Meskipun mengetahui permainan-permainan tradisional tersebut, namun Haura mengaku jarang sekali memainkannya bersama teman-teman sebayanya saat dirumah.

Banyak dari teman-temannya yang sibuk les sehingga dia jarang memiliki teman bermain.

“Kalau di rumah, aku jarang punya teman. Kebanyakan pada sibuk les. Makanya aku sangat senang ketika pergi ke Sanggar. Banyak temannya,” ungkapnya.

Meskipun baru duduk di kelas 3 SD, Haulia mengaku sangat ingin melestarikan dolanan-dolanan yang juga merupakan peninggalan luhur ini.

Dewi Liatianingrum, yang merupakan Koordinator dalam pementasan kali ini sekaligus Ketua Sanggar Sakura tempat Haura belajar, mengaku sengaja menggabungkan antara koreografer, musik dan permainan.

“Jadi ini memang dolanan anak tempo dulu, tapi kita kemas sedikit modern sesuai dengan permintaan dalam lomba. Kita baru terima undangan ini seminggu yang lalu, tapi Alhamdulillah anak-anak mampu untuk mementaskannya,” ungkapnya.

Mengenai kesulitan, Dewi mengaku sempat mengalaminya manakala anak-anak menghafalkan lagu yang memang jarang ketahui anak didiknya sebelumnya.

“Ada kesulitan, karena jaman sekarang kebanyakan anak pegangannya gadget. Jadi jarang dengar lagu-lagu dolanan. Kesulitan terberat saat anak-anak berlatih enggrang, awalnya mereka takut,” terangnya.

Karena anak-anak didiknya memiliki kemauan yang besar untuk bisa bermain enggrang, maka rasa takut yang dimiliki anak-anak didiknya perlahan mulai hilang.

Malahan ada diantara mereka yang malah ketagihan.

“Mereka ada kemauan, meskipun tidak semua bisa bermain. Disini kita gabungkan antara tari, lagu, permainan,” ungkapnya,

Mengenai ide agar pertunjukan yang ditampilkannya bisa menarik, Dewi mengaku selalu mengambil permainan yang memang jarang dimainkan oleh peserta lainnya.

“Kita alhamdulillah selama dua tahun berturut-turut selalu juara satu saat mewakili kecamatan. Kali ini materinya baru, anaknya juga semua baru. Jadi kita pakainya anak-anak yang usianya tidak lebih dari 12,” ungkapnya.

Dewi mengaku sangat prihatin saat ini banyak anak-anak yang lebih tertarik bermain gadget daripada bermain bersama teman-teman seusianya.

Dia berharap dolanan-dolanan anak ini bisa terus dilestarikan.

“Kita mencoba flashback ke belakang. Dolanan anak itu lebih menyenangkan daripada gadget. Sekarang banyak anak yang lebih suka main gadget. Padahal dolanan anak itu lebih kreatif, lebih guyub rukun, tidak egois seperti gadget,” terangnya.

Untuk melestarikan dolanan-dolanan anak, Dewi mengaku di sanggarnya juga disediakan alat-alat dolanan anak, seperti enggrang, dakon, lompat tali.

“Mereka biar tahu, jamannya saya ada permainan yang memang menarik. Tidak seperti sekarang yang hanya ngegame. Semoga pemerintah bisa sering mengadakan acara seperti ini sebagai bentuk pelestarian dolanan anak,” terangnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved